Monday, August 10, 2009

Review KIA Picanto


Ini kelanjutan posting saya sebelumnya. Waktu saya googling tampaknya belum ada review dari pengguna Picanto di Indonesia. Bukannya tidak ada sih, tapi tersebar di forum dan mailing list.

Disclaimer: saya jelas bukan reviewer otomotif profesional :-) hanya sekedar user. Mobil yang saya pernah gunakan juga cuma Katana dan Toyota Cressida (tapi jarang). Jadi yang pasti review ini subyektif. Posting ini rencananya saya update terus sesuai perkembangan.

Picanto saya sudah digunakan kurang lebih 300 1800 8600 Km , sudah dibawa ke Lembang, bermacet-macet di kota, dan kadang ke tol (–update 09: sudah dibawa ke anyer dan beberapa kali ke Jakarta). Berikut kesan-kesan saya:

Sisi positif:

  • Enteng dibawa tanjakan. Ini penting untuk kondisi Bandung yang banyak naik turun. Maks torque (96NM) didapat pada RPM 2800, jadi pas untuk dalam kota. Walaupun torquenya kecil, tapi berat Picanto cuma 852 kg (1 NM untuk 8.87 kg). Biasanya saya dapat menggunakan gigi 2-3 di setiap tanjakan. Kecuali untuk satu tanjakan di daerah Polban, tanjakan panjang, curam dengan dua kelokan. Picanto harus menggunakan gigi 1 (AC masih nyala) . Tapi saya pernah berpapasan dengan Terano di tanjakan ini dan kalau dilihat dari suaranya dia juga menggunakan gigi 1. Katana saya dulu pernah mundur di tanjakan ini. Macet di tanjakan basement mall paris van Java juga tidak masalah (mobil diisi 2 dewasa 3 anak-anak), rem tangan enak.
  • Di tol bisa mencapai 120kpj dan masih stabil, tidak ada getaran. Jelas masih bisa lebih (RPM masih di 3500-an). Di forum ada yang bilang dapat mencapai 170-an. Kalau menurut buku manual, kecepatan maks adalah 155 an, di speedometer 180. Tapi kalau mau nyaman ya dikisaran 90-100. Lebih dari itu tidak nyaman karena suara ban dan angin mulai terdengar dan agak khawatir mengerem (baca kelemahan Picanto dibawah). Kecepatan 80 terasa tidak bergerak, jadi malah ngantuk.
  • Lincah (akselerasi bagus, power steering, rem cukup) . Ini juga cocok untuk di Bandung yang banyak angkot. Mobil harus bisa lincah menyalip angkot yang berhenti mendadak atau menyalip motor di jalan sempit. Jeleknya jadi sering keasyikan tancap gas (boros bensin).
  • Kopling lembut (hidrolik) dan akurat, nyaman untuk kondisi macet. Awalnya untuk kopling mundur agak seret (dan bunyi). Setelah baca buku manual, ternyata sebelum mundur harus masuk ke netral dulu, tunggu sekitar 3 detik, baru masuk gigi mundur. Setelah itu tidak ada masalah lagi untuk gigi mundur. Itulah gunanya baca buku manual :-)
  • Dimensinya kecil (lebar 1.6 m). Enak saat melewati jalan sempit dan saat parkir.
  • Kursi depan nyaman, walaupun dari luar terlihat kecil, saat masuk ternyata cukup lega. Ada tilt steering.
  • Bensin irit, kemarin dapat 10 sd 12 km untuk 1 liter (dalkot Bandung non tol). Tapi angka ini belum akurat, saya masih kagok menyetirnya, cenderung banyak tekan gas. Nanti diupdate lagi setelah service 1000 km. Harusnya memang irit karena cc-nya kecil dan berat mobil rendah. –update 8 Mar 08- sekarang tampaknya stabil di kisaran 1:11, kalau melewati tol 1:12 -Tapi jangan terlalu percaya brosur atau sales yang mengatakan 1:23, mungkin bisa sih tapi dengan kecepatan maks 40 kpj, selalu gigi 5, tidak macet, di tol, dibelakang bis, kaca ditutup dan AC mati –update 14 Jan 07 — Kemarin untuk rute Bandung-Lembang-Dago Pakar-Bandara Soekarno Hatta-Bandung konsumsi bensin 1:17.2 (24 liter untuk 414 km). Rata-rata kecepatan di tol 100-120 kpj, full AC. –update 17 juni 08 — Berhasil menembus 1:12 untuk dalkot Bandung tanpa tol samasekali, full AC, RPM dijaga antara 2000-2500.
  • -update 16-01-08- AC dingin. Di Bandung biasanya menggunakan setelan yang paling minimal untuk suhu dan blower. Di Jakarta saat panas (tapi tidak macet), hanya butuh setengah (blower pada kecepatan no 2). Setelah parkir panas-panasan di Bandara Soekarno-Hatta hanya butuh waktu 15 menitan untuk dingin. Menurut saya ini karena volume ruang kabinnya yang kecil.
  • -update 1-01-08- Mengeluarkan emisi rendah (119 g/km CO2). Sudah melewati Euro2. Saat saya kerja pagi, saya dapat melihat kota Bandung pada jam 9-an tertutup kabut abu-abu tipis polusi (lokasi kerja saya di Bandung Utara). Jadi menggunakan Picanto artinya ikut berkontribusi mengurangi polusi Bandung :-)
  • -update 29-01-08- Ada footrest untuk kaki kiri dan senderan untuk siku kanan. Baru sadar baru-baru ini. Soalnya mobil yang lama tidak punya fitur ini sih :-) Yang jelas, menyetir jadi lebih santai dan tidak gampang pegal.
  • -update 15-02-08- Build qualitynya bagus. Sama sekali tidak ada keluhan dalam tiga bulan ini, tidak ada suara dari dashboard, glove box, kursi dsb.
  • -update 24-02-08- Bemper depan yang penyok karena digunakan Lia belajar mengemudi bisa dikembalikan ke kondisi semula dengan hanya disodok batang kayu dari belakang! Padahal ukuran penyoknya lumayan (kira-kira panjangnya 15 cm, dalam 5 cm). Soalnya bempernya dari plastik sih dan tidak dicat :-)
  • -update 27-02-08- Tidak capek saat membersihkan mobil, mobilnya kecil sih.
  • -update 12-08-08- Nyaman untuk perjalanan luar kota (yang tidak macet dan jalannya mulus). Awal Juli saya bawa Picanto ke Bandara SH (jemput Istri dan Furqon), lalu langsung ke Pantai Carita (Lippo Carita). Berangkat dari Bandung jam 4 pagi (santai, lalu lintas lancar) sampai di pantai jam 12-an. Semua merasa nyaman tapi yang paling enak ya Furqon karena sendirian di belakang dan disediakan bantal :)
  • Interior simple. Mungkin ada yang tidak suka karena banyak plastiknya. Tapi kalau saya cocok, minimalis dan mudah dibersihkan.
  • Eksterior menarik. Mobil kecil dengan ukuran paling proporsional menurut saya. Ibu saya malah bilang seperti panda :-) (Picanto saya berwarna silver dengan hidung hitam).

Kelemahan: (perlu diingat Picanto adalah mobil kelas supermini dengan harga dibawah 100 juta, jadi memang ada hal yang harus dikorbankan)

  • Suara ban masuk ke kabin pada kecepatan tinggi. Terasa di jalan tol dengan aspal yang kasar. Mungkin harus tambah soundproofing. Suara mesin sih OK, tidak terlalu terdengar. Kalau dalam kecepatan rendah atau diam, Picanto termasuk hening. Tanpa lihat penunjuk RPM tidak ketahuan mesin nyala atau mati. -update 14 feb 08 — pada kecepatan rendah (50kpj) ternyata dengung ban juga mulai terdengar, ada yang bilang karena jenis bannya (kumho buatan korea) tidak cocok dengan jalan Indonesia. –
  • Mobil agak terbanting saat direm pada kecepatan tinggi. Pakem sih, tapi riskan juga karena bisa keluar jalan. Kalau dari manual, ini bisa dikarenakan rem basah. Atau saya terlalu dalam menginjak rem (mobil ini tidak ada ABS-nya). -update 16-01-08- Sekarang tidak lagi, tampaknya memang karena terlalu dalam diinjak. -update 14-02-08- Untuk kecepatan rendah, rem kadang-kadang tidak akurat.
  • Bantingan saat belok lumayan terasa. Saat ke Lembang, dari sisi tenaga tidak masalah, tapi tidak bisa terlalu cepat di belokan.
  • Ruang kaki di kursi belakang sempit. Apalagi untuk kursi dibelakang supir. Idealnya Picanto hanya digunakan oleh 2 orang, maksimum 3. Kecuali kalau di belakang hanya diisi anak-anak.
  • Bensin pertamax. Menurut manual harus RON 91. Walaupun sales bilang bisa premium, tapi IMO kalau dipaksa menggunakan premium tidak bagus untuk mesin dalam jangka panjang.
  • Suspensi keras, tapi menurut saya lebih baik seperti ini daripada mobil jadi tidak stabil (apalagi dulunya saya punya katana yang suspensinya jauh lebih keras hehe)
  • Gas terasa tertahan di gigi 1, ini mungkin karena saya belum biasa. Ada juga yang bilang ini karakter mobil KIA dari jaman Timor. Tapi ada juga yang mengatakan ini bisa diset saat service 1000 km. –update 6-02-07 — Masih kadang-kadang tersendat walaupun sudah service 1000 km. Terutama kalau kondisi macet dan saya sedang rusuh. Solusinya hanya tekan gas pelaaan, setengah kopling atau pindah ke gigi 2 — update 24-02-08: coba pindah pom bensin. Dari setiabudhi dekat Hoka ke setiabudhi dekat Borma (pombensin paling baru). Entah perasaan saja atau memang saya sudah biasa, tapi tampaknya gejala tersendat berkurang dan isi full tank jadi lebih sedikit! Baru sekali isi sih, nanti dimonitor terus. –update 30-04-08 — setelah 2 bulan menggunakan pom bensin setiabudhi Borma, tadi coba isi di pom bensin setiabudhi dekat hoka, efeknya mobil terasa lebih berat dan saat parkir di garasi (parkir mundur agak nanjak), mobil sampai mati dua kali –
  • update 16-01-08: Ada bunyi dari roda depan kalau terkena lubang yang besar di jalan. Bunyinya wajar sih, seperti mobil lain, tapi terdengar lebih keras. Sepertinya butuh tambahan soundproof di bagian roda.
  • update 16-01-08: Bemper depan terlalu rendah, sudah dua kali kena pembatas ban di tempat parkir (polisi tidur sih belum pernah kena). Untungnya Picanto pendek (3.5 meter), jadi solusinya gampang: parkir agak mundur saja.
  • update 24-02-08: Tuas kopling kadang tersenggol paha penumpang depan kalau ukuran penumpangnya gede.
  • update 27-02-08: Tidak nyaman jika melewati jalan jelek

Menurut saya pribadi, Picanto sudah sesuai dengan harganya, bahkan untuk beberapa hal sudah melebihi ekspektasi saya.

-update 9 Jan 07-

Forum khusus Picanto:

-update 29 Jan 08 -
Hari ini service 1000km, ganti oli dan saringannya. Ini karena direkomendasikan oleh mekanik. Dari yang saya baca di internet memang dianjurkan untuk ganti oli di antara 300 mil sd 1000 mil pertama. Oli yang digunakan Total (agak asing juga). Katanya di bengkel resmi tersedia dua: Total dan Petronas. Tapi petronas belum ada. Setelah ganti oli perasaan sih suara mesin jadi lebih halus (sugesti mungkin). -update 24-02-08- Lebih halus memang, tapi cuma 500 km pertama, habis itu normal lagi -

Kondisi mesin dan lainnya semuanya OK kata mekanik :-) Service lagi setelah 5000 km. Tapi masih perlu spooring karena di bengkel resmi tidak tersedia alatnya.

BTW iseng-iseng tanya sales disebelah tempat service, harga Picanto OPT1 sekarang 101 juta dan OPT2 107 juta. Naik 4 jutaan dari Des 07.
-end update-

- update 9 Ok 08 -
Hari ini service 5000 km, dilakukan di bengkel KIA Siloam di Pasteur (bengkel KIA Wastukencana pindah ke Jl. Ahmad Yani, jadi terlalu jauh). IMO, lebih bagus bengkel Siloam dibandingkan bengkel Wastukencana. Ruang tunggu lebih enak, di lantai 2, ada kaca sehingga kita bisa melihat mobil kita sedang dirawat. Setelah service dicuci juga :-) . Ganti oli Repsol, dan minta bunyi “ngik-ngik” di roda kiri belakang dihilangkan. Ternyata cuma longgar, setelah dikencangkan dan ditest oleh montir, bunyi sudah hilang. Total habis 260 ribu (150 ribu oli, 84 ribu ongkos kerj)a. Mobil terasa enak setelah service ini. Kemudian seperti biasa, tanya harga picanto. Untuk OPT1, sekarang harganya 104.5 juta.

- update 17 Jun 09 -
Service 10.000 km di Siloam (kali ini mobil tidak dicuci setelah service, kok turun ya pelayanan KIA siloam pasteur). Ganti filter oli. Sekalian service central lock yang kadang-kadang macet. Total biaya 400 ribuan. Berbeda dengan service sebelumnya, tidak terasa perbedaan yang signifikan.

-update 8 Feb 08-
Penasaran dengan masalah tersendatnya Picanto di gigi 1, saya coba cari-cari di internet. Solusi yang paling pas datang dari pengguna Avanza, kuat dugaan saya kasusnya sama dengan Picanto (walaupun untuk A/X efek tersendat terjadi juga di gigi 2). Berikut saya kutip email dari Sdr Reza (http://autos.groups.yahoo.com/group/XeniaAvanza/message/4382)

kalau sedang setir pada saat rpm diatas 1500 terutama pada gigi 1 atau 2, kemudian kita lepas gas, dan rpm turun di bawah 1500, akan terasa seperti ada engine brake tambahan, itu adalah saat injektor bensin menutup aliran bensin, yg di control oleh ECU, pada saat demikian, jangan di gas, pasti akan menyentak, biarkan sampai efek tertahan terasa di release, pada saat injektor sudah mengalirkan bensin lagi… baru kemudian injak gas, maka tidak ada efek hentakan yg menyendat….

efek sentakan terjadi, krn pada saat kita ijak gas,- ( pada saat ecu sedang mematikan aliran bensin di injektor, dan waktu ecu mengalirkan kembali bensin) -, throtle bensin, membuka , sehingga otomatis akan menyentak karena supply bensin mendadak “besar” dari sebelum nya di tutup…
trik ya kudu sabar dikit waktu mau ngebejek gas, nunggu sampe rasa tertahan lepas…. nah baru bejek, pasti tidak akan nyendat2…

Kesimpulannya, walaupun macet tetap tidak boleh buru-buru :-)

–end update–

–update 30 agt 08 –
Email dari Mas Arwan di milis yang bagus (saya letakkan disini supaya ingat):”Saat ganti kopling atau ganti timing belt, sekalian minta ganti seal crankshaftnya, supaya bisa irit ongkos bongkar (harga seal tidak sebanding dengan ongkos bongkar)”

– update 18 feb 09 –
Dua mingu yang lalu untuk pertama kalinya terpaksa isi premium karena pertamax di pom bensin langganan (sebelah borma) habis. Mau ke tempat lain males karena sudah tanggung dan bensinnya juga sudah tinggal sedikit. Efeknya langsung terasa, sampai sempat mati di tengah jalan (serasa baru belajar nyetir). Tenaga berkurang jauh dan beberapa kali mesin ngelitik. Suara mesin juga jadi lebih kasar pada saat idle. Beberapa bulan yang lalu, diisi pertamax plus efeknya juga menyebabkan tenaga berkurang, entah kenapa. Jadi memang pertamax yang paling pas untuk picanto.

No comments:

Post a Comment