Showing posts with label wanita muslimah. Show all posts
Showing posts with label wanita muslimah. Show all posts

Friday, August 14, 2009

Wanita Agamis wanita salihah

Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri Karangsuko Malang.

Seorang pria yang hendak menikahi seorang wanita, kata Rasulullah, tidak lepas dari tiga pertimbangan: kecantikan (jamaliha), kekayaan (maliha) dan agama (diniha). Dari ketiga faktor tersebut, kata Rasululullah lagi, pertimbangan berdasarkan kualitas spiritual seorang wanita (li diniha) adalah yang paling tepat dan menguntungkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat — menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah. Dalam Quran Surat Annur 24:3 Allah membuat larangan tegas kepada seorang muslim yang salih agar tidak menikahi wanita pezina (kecuali setelah bertobat nasuha).

Tentu saja konsep yang sama (li diniha) hendaknya juga dijadikan prioritas utama bagi wanita dalam menentukan calon pendamping hidupnya; bukan berdasarkan ketampanan dan kekayaannya.

EQ dan SQ

Manusia dikaruniai kecerdasan yang jauh melebihi hewan. Sebagian ahli psikososial membagi kecerdasan yang ada pada diri manusia dalam beberapa macam, yang terpenting dan relevan dengan pembahasan saat ini ada dua yaitu kecerdasan emosional atau EQ (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual atau SQ (spiritual quotient).

EQ atau kecerdasan emosional yang ada pada diri manusia berfungsi untuk mengontrol perilaku agar sesuai dengan tatanan sosial yang ada. Untuk memahami mana perilaku yang ditabukan, dibolehkan atau dianjurkan dalam suatu masyarakat tertentu. Ia juga berfungsi untuk memahami mana sikap yang akan melukai, menyinggung perasaan atau menyenangkan orang lain. Semakin tinggi kadar EQ seseorang, maka akan semakin diterima orang tersebut di lingkungannya. Kebalikannya, semakin lemah kadar EQ-nya, akan semakin terasing dan tak disenangi seseorang di mana pun dia berada.

Tanda paling menyolok dari individu yang lemah EQ-nya adalah sikap egois, kikir, pemarah dan tidak hati-hati dalam menjaga perasaan orang lain dan lingkungannya.

Dalam pandangan Islam, memiliki EQ tinggi saja tidak cukup. Seorang Muslim harus juga memiliki kecerdasan spiritual atau SQ yang tinggi yakni ketundukan pada Allah, Sang Pencipta (QS Adz Dzariyat 51:56). Ketundukan dengan ikhlas untuk melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya menjadi prasyarat yang tak kalah pentingnya dalam rangka usaha manusia untuk menuju kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat (Al Baqarah 2:201).

Dengan demikian, yang disebut wanita agamis bukanlah mereka yang “cuma” memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi yang ditandai dengan ketundukan pada prinsip-prinsip Islam dan menguasai keilmuan agama yang mumpuni. Juga bukanlah wanita yang cuma memiliki kecerdasan perilaku (EQ); apalagi kecerdasan intelektual (IQ).

Wanita agamis adalah mereka yang memiliki baik kecerdasan SQ maupun EQ. Semakin tinggi kadar SQ dan EQ-nya, semakin tinggi ke-agamis-annya.

Berbeda dengan IQ atau kecerdasan intelektual, SQ dan EQ bukanlah “bawaan lahir.” Ia harus diusahakan dengan kerja keras (Al Balad 90:10-18). Dengan perjuangan terus menerus. Rasulullah menyebutnya sebagai “jihad besar.” Karena memang tiada perjuangan yang lebih berat selain perjuangan untuk mereformasi diri; meningkatkan kadar kualitas EQ dan SQ. Karena ia merupakan perjuangan terus menerus dan berkelanjutan dari lahir sampai akhir hayat.[]

Wanita Karir

Oleh A. Fatih Syuhud
Situs resmi: www.fatihsyuhud.com
Artikel ini ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri

Secara definisi wanita karir bermakna (a) seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius; (b) perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain).

Ekonomi merupakan kebutuhan dasar manusia dan itu diakui secara universal . Quran secara eksplisit memerintahkan kita untuk rajin bekerja sepanjang hari dalam seminggu tanpa mengenal hari libur, tentu saja dengan tanpa melupkan ibadah harian yang diwajibkan seperti shalat (QS Al Jum’ah 62 :9).

Pada masa Rasulullah sendiri, ada banyak wanita yang juga dikenal sebagai wanita karir. Siti Khadijah, istri Nabi, adalah satu di antaranya.

Namun demikian, kita semua tahu bahwa ekonomi bukanlah satu-satunya tujuan kita hidup di dunia. Pada kenyataannya ekonomi hanyalah sarana untuk menopang sisi-sisi kehidupan yang lain.

Sisi-sisi kehidupan yang dimaksud antara lain adalah membentuk keluarga sakinah (QS Ar Rum 30:21). Keluarga adalah tiang utama kehidupan. Karena dari situ sebuah komunitas, peradaban dan budaya dibangun. Islam adalah agama yang menitikberatkan pada soliditas dan kekompakan kolektif masyarakat. Akan tetapi kekompakan kolektif tidak dapat terbangun tanpa adanya kekuatan individual pada anggota masyarakat; pada setiap keluarga; pada setiap orang dalam keluarga itu. Di sinilah peran pilar utama keluarga – ayah dan ibu—mutlak diperlukan.

Untuk membentuk keluarga sakinah, sebagai unsur pokok dari masyarakat yang progresif dan Islami, setidaknya dua faktor berikut perlu diperhatikan:

Pertama, pendidikan anak secara berkesinambungan. Pendidikan yang utama tentu saja di rumah. Bukan di sekolah formal. Khususnya menyangkut pendidikan karakter. Di sini peran orang tua, terutama ibu, sangat dominan. Keluarga broken home (tidak sakinah) umumnya timbul dari minimnya peran ibu baik karena kesibukan bekerja atau minimnya pengetahuan dan wawasan.

Kedua, pengawasan terhadap perilaku sosial anak di luar rumah. Kurangnya pengawasan dengan siapa anak bergaul akan sangat berbahaya khususnya dewasa ini di mana berbagai bentuk ancaman kejahatan sibuk mencari kesempatan untuk merusak kehidupan kita.

***

Menjadi wanita karir konvensional dalam arti wanita yang bekerja di luar rumah dan meniti karir sampai puncak adalah “mudah.” Asal memiliki kecakapan yang cukup plus kemampuan “lobi” yang baik, tujuan itu akan tercapai. Tetapi menjadi wanita karir “non-konvensional”, yang menjalankan bisnis dari dan berkantor di rumah demi menjaga keseimbangan “ecosistem” keluarga dan pendidikan anak adalah sulit terutama bagi wanita yang punya kecenderungan exibitionist. Tapi mudah bagi kalangan wanita yang lebih mementingkan hasil kolektif dari pada penampakan ego pribadi.

Dalam Islam yang ditekankan bukanlah memamerkan siapa yang berperan paling banyak, tetapi peran maksimal apa yang dapat kita berikan. Bahwa peran kita kemudian diakui atau tidak, tidaklah begitu penting.[]

Wanita Dewasa seperti apa?

wanita dewasaOleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah PP Alkhoirot Putri Karangsuko Malang


Secara etimologis (istilah) fiqih seorang wanita dianggap dewasa apabila sudah memasuki masa haid, biasanya saat usia 13 – 14 tahun. Setelah memasuki masa inilah berlaku kewajiban dan larangan agama seperti kewajiban salat lima waktu dan larangan bergaul dengan pria yang bukan muhrim. Menurut hukum negara, wanita baru dianggap dewasa saat berusia 17 tahun saat di mana dia mulai memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara penuh seperti hak untuk mengenyam pendidikan, berpartisipasi dalam pemilu, hak untuk menikah, memiliki KTP atau SIM serta kewajiban untuk menaati peraturan pemerintah yang berlaku.

Dewasa dalam pengertian di atas adalah definisi dewasa yang formal yang terkait dengan hukum tertentu baik hukum islam maupun hukum negara.

Sedang dewasa dalam tinjauan umum, termasuk dalam tinjauan psikologi, adalah sempurnanya pertumbuhan fisik dan mental seseorang. Pertumbuhan fisik yang normal mudah diketahui karena dapat dilihat oleh pancaindra. Akan tetapi pertumbuhan mental yang sempurna dan matang merupakan hal yang berbeda..

Dewasa secara mental dapat dilihat dari sikap yang matang dan rasional serta tidak emosional dalam membuat penilaian, dalam bersikap, dalam mengatasi suatu masalah diri sendiri maupun persoalan orang lain. Kalau pertumbuhan fisik akan berhenti pada usia sekitar 20-an tahun, maka kedewasaan adalah proses yang berkembang dalam waktu lama.

Oleh karena itu, dewasa secara fisik dan umur belum menjamin seseorang menjadi dewasa secara mental, pola pikir dan pola sikap. Al Quran menyebut kedewasaan sikap yang sempurna itu dengan istilah al-akhlaq al-karimah atau budi pekerti yang luhur (QS Al Qalam 68:4)

Kedewasaan sikap yang sempurna atau al-akhlaq al-karimah adalah sebuah proses panjang yang berliku walaupun tidak mustahil untuk dicapai. Dan hal yang lebih penting lagi adalah kemauan kuat untuk menjalani proses dan keinginan besar untuk mencapainya. Berikut beberapa langkah awal yang perlu dilakukan:

1. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Apabila gagal atau salah jangan berbohong atau menyalahkan orang lain.
2. Akui kesalahan yang dilakukan dan berbesar hati meminta maaf. Tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk mengoreksinya. Ingat apa yang terjadi, supaya kesalahan serupa tidak terulang lagi.
3. Cari teman bergaul yang dewasa. Bertemanlah dengan wanita yang Anda anggap lebih dewasa sikapnya yang mau mengeritik Anda. Mintalah nasihat dan saran – dan dengarkan nasihat yang mereka berikan.
4. Catat sikap-sikap kurang dewasa Anda, baik yang Anda ketahui sendiri ataupun yang dibilang orang lain. Berlatihlah untuk membuangnya satu-persatu.
5. Hormati orang tua, keluarga dekat dan guru spiritual Anda. Karena mereka yang paling mungkin menyediakan waktu untuk Anda saat Anda sangat membutuhkan bantuan.
6. Perhatikan dan catat perbuatan apa saja dari teman saja yang paling Anda sukai dan Anda benci. Tiru perbuatan teman Anda yang menyenangkan, dan jangan ditiru sikap mereka yang menyebalkan.[]