Showing posts with label proses. Show all posts
Showing posts with label proses. Show all posts

Friday, August 21, 2009

TEORI PROSES SOSIALISASI Menurut Charles H. Cooley dan teori George Herbert Mead

Cari Dollar

Written by Maria Magdalena


A
da 2 teori proses sosialisasi yang paling umum digunakan, yaitu teori Charles H. Cooley dan teori George Herbert Mead.


Teori Charles H. Cooley lebih menekankan pada peran interaksi antar manusia yang akan menghasilkan konsep diri (self concept). Proses pembentukan konsep diri ini yang kemudian disebut Cooley sebagai looking-glass self terbagi menjadi tiga tahapan sebagai berikut.

1. Seorang anak membayangkan bagaimana dia di mata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi dan sering menang di berbagai lomba.

2. Seorang anak membayangkan bagaimana orang lain menilainya.
Dengan perasaan bahwa dirinya hebat, anak membayangkan pandangan orang lain terhadap dirinya. Ia merasa orang lain selalu memujinya, selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orang lain terhadap dirinya. Misalnya, orang tua selalu memamerkan kepandaiannya.

3. Apa yang dirasakan anak akibat penilaian tersebut.
Penilaian yang positif pada diri seorang anak akan menimbulkan konsep diri yang positif pula.

Semua tahap di atas berkaitan dengan teori labeling, yaitu bahwa seseorang akan berusaha memainkan peran sosial sesuai dengan penilaian orang terhadapnya. Jika seorang anak di beri label “nakal”, maka ada kemungkinan ia akan memainkan peran sebagai “anak nakal” sesuai dengan penilaian orang terhadapnya, meskipun penilaian itu belum tentu benar.

Image Menurut George Herbert Mead, sosialisasi yang dialami seseorang dapat dibedakan dalam tahap-tahap sebagai berikut.

• Tahap persiapan (Preparatory Stage)

Tahap ini dialami manusia sejak dilahirkan, ketika seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Contoh: Kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita. Makna kata tersebut juga belum dipahami dengan tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata “makan” tersebut dengan cara menghubungkannya dengan kenyataan yang dialaminya.


• Tahap meniru (Play Stage)

Tahap ini ditandai dengan:

  1. Semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa.
  2. Mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tua, kakak, dan sebagainya.
  3. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini.
  4. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan pertahanan diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai (Significant other).


• Tahap siap bertindak (Game Stage)

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

• Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.

PROSES SOSIALISASI DAN INTERAKSI SOSIAL

Cari Dollar


I. PENGERTIAN PROSES SOSIALISASI

Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai a process by which a child learns to be participant member of society proses dimana seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116). Definisi ini disajikannya dalam suatau pokok bahasan berjudul society in man; dari sini tergambar pandangannya bahwa melalui sosialisasi masyarakat dimasukkan ke dalam manusia.

Menurut Berger dan menurut sejumlah tokoh sosiologi, yang diajarkan melalui sosialisasi ialah peran-peran. Oleh sebab itu teori sosialisasi sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori mengenai peran (theory of role).


I. AGEN SOSIALISASI

Agen sosialisasi adalah pihak yang melaksanakan sosialisasi. Menurut Fuller dan Jacobs (1937:168-208) ada empat agen sosialisasi, yaitu:

1. Keluarga

Pada awal kehidupan manusia, agen sosialisasi terdiri atas orang tua dan saudara kandung, kakek, nenek, paman, bibi (extended family), tetangga, baby sitter, pekerja sosial, petugas penitipan anak (sama sekali bukan kerabat), pembantu rumah tangga. Peranan mereka menjadi sangat penting karena pada tahap inilah anak mulai mengenal segala sesuatu.

2. Teman bermain

Agen sosialisasi selanjutnya adalah teman bermain. Di sini seorang anak mempelajari berbagai kemampuan baru. Diantaranya mempelajari aturan yang mengatur peran orang yang kedudukannya sederajat dan belajar nila-nilai keadilan.

3. Sekolah

Robert Dreeben (1968) berpendapat bahwa yang dipelajari anak di sekolah -disamping membaca, menulis, berhitung- adalah aturan: kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universialism), spesifitas (specifity).

4. Media massa

Media massa diidentifikasikan sebagai suatu agen sosial yang berpengaruh terhadap perilaku khalayaknya. Pesan-pesan yang ditayangkan melalui media-media elektronik dapat mengarahkan khalayak kea rah perilaku prososial atau anti sosial.


II. PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL

Gillin mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai; pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.

Menurut Soerjono Soekanto, suatu interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. Syarat tersebut adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.


III. FAKTOR TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL

1. Faktor imitasi

Faktor ini memiliki peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi nilai yang berlaku. Dampak buruknya, ketika yang ditiru adalah tindakan-tindakan menyimpang.

2. Faktor sugesti

Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi apabila pihak yang menerima dilanda emosinya, yang kemudian dapat menghambat daya berfikirnya.

3. Faktor identifikasi

Merupakan kecenderungan-kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar sikap ini.

4. Faktor simpati

Merupakan proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.


IV. BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL

1. Kerja sama (co-operation) : dimaksudkan sebagai suatu kerja sama antara orang perorangan atau kelompok manusia, untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

2. Persaingan (competition) : suatu proses sosial di mana orang perseorangan atau kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu yang jumlahnya terbatas.

3. Pertikaian (conflict) : adalah usaha menentang pihak lawan dalam mencapai tujuan.

4. Akomodasi (accomodation) : akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai suatu kesetabilan.



1. Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta, Lembaga Penerbit FEUI, 2004) hlm. 21

2. Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta, CV Rajawali, 1986) hlm.51



Friday, August 7, 2009

Pentingnya Mengapa Kita Harus Belajar


Belajar adalah proses untuk mengerti sesuatu. belajar selalu kita terapkan dalam setiap hal seperti:

  1. 1. kita tidak bisa mengerti pelajaran tanpa belajar.
  2. 2. pada waktu kita kecil, kita belum bisa bersepeda maka kita perlu proses belajar terlebih dahulu.
itu sedikit contoh pentingnya belajar buat kita. memang, terkadang kita malas belajar tetapi jika kita mengingat apabila kita tidak belajar maka kita tidak mengerti sesuatu yang ingin kita mengerti dan juga apabila kita tidak belajar bagaimana kita bisa mencapai cita-cita kita kalau kita tidak mengerti apapun. tapi terkadang ada juga bahwa kita sudah belajar tetapi tidak juga mengerti apa yang telah kita pelajari. maka apabila hal itu terjadi sebaiknya kita belajar dan belajar terus dan tidak lupa disertai ibadah dengan memohon RIDHLO-NYA.
Jangan lupa sebelum belajar harus berdo'a. belajar sama artinya dengan menuntut ilmu, dan bagi orang islam menuntut ilmu hukumnya wajib. dari lahir sampai ke liang lahat. jadi apabila kita umat islam tidak belajar ataupun malas belajar itu berarti kita berdosa. kalau kamu seorang muslim dan merasa mempunyai kewajiban serta ingin cita-cita kamu tercapai mari mulai dari sekarang kita harus belajar !!!!!!!!!!!!!!!