
Friday, September 17, 2010
6 Alasan Kenapa Orang Ingin Berhenti Bekerja

6 Alasan Kenapa Orang Ingin Berhenti Bekerja

Friday, August 7, 2009
Mengapa Anak Harus Belajar Membaca Sejak Dini
Beberapa alasan yang mendukung mengapa anak usia balita harus diajarkan membaca:
· Hiperaktivitas seorang anak usia balita ternyata diakibatkan oleh kehausan ilmu pengetahuan. Jika dia diberikan kesempatan untuk memuaskan rasa dahaga itu, setidaknya untuk sementara waktu , hiperaktivitasnya akan berkurang sehingga lebih mudah untuk melindunginya dari bahaya.
· Lebih mudah mengajar seorang anak membaca pada usia balita daripada pada usia yang lebih tua.
· Anak-anak yang diajarkan membaca pada usia balita akan menyerap lebih banyak informasi daripada anak-anak yang usianya lebih tua.
Hal yang sangat penting kita ketahui dari sudut pandang neurologis bahwa membaca sama sekali bukan suatu mata pelajaran sekolah. Membaca adalah suatu fungsi otak. Jadi proses membaca itu sama seperti proses mendengar yang juga merupakan fungsi otak. Jadi sangat penting dan merupakan suatu keharusan bagi kita sebagai orang tua untuk mengajar membaca anak kita pada usia sedini mungkin.
Selama masa kehidupan ini, belajar merupakan kebutuhan yang utama dan mendesak, dan kita akan melawan alam jika mencoba menghalanginya. Belajar itu penting untuk kelangsungan hidup manusia.
Anak kucing yang “ bermain “ dengan bola wol sebenarnya menggunakan bola itu sebagai pengganti tikus. Anak anjing yang “ bermain “ sambil bergulat dengan anak anjing lainnya sebenarnya sedang belajar untuk bertahan jika diserang.
Kelangsungan hidup manusia di dunia ini tergantung pada kemampuannya untuk berkomunikasi dan bahasa adalah alat komunikasi itu.
Permainan anak, seperti halnya permainan anak kucing, yang mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk belajar dan bukan untuk kesenangan saja.
Belajar adalah petualangan yang paling besar dalam kehidupan ini. Belajar itu sangat diperlukan, sangat penting, tidak terelakkan dan diatas segalanya, belajar merupakan permainan kehidupan yang paling berharga dan yang paling menggairahkan. Seorang anak percaya akan hal ini dan akan terus mempercayainya kecuali jika kita berhasil meyakinkan bahwa hal itu tidak benar.
Syarat terpenting adalah di antara orang tua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca adalah permainan yang bagus sekali. Orang tua tidak boleh lupa bahwa:
· Belajar adalah permainan hidup yang paling menggairahkan dan belajar bukanlah bekerja.
· Belajar adalah pahala, bukan hukuman.
· Belajar adalah bersenang-senang, bukan bersusah payah.
· Belajar adalah suatu kehormatan bukan sesuatu yang hina.
Ada suatu dalil ( Hukum Anti Gagal ) yang selalu harus anda ingat, yaitu : Jika suasana hati anda dan suasana hati anak Anda sedang tidak baik, berhentilah mengajar, Anda pasti akan melakukan sesuatu yang salah jika Anda teruskan. Hentikanlah sebelum anak Anda ingin mengakhirinya.
Sebelum kita membahas cara mengajarkannya membaca, ada hal-hal penting yang perlu diingat mengenai seorang anak :
1. Anak di bawah usia lima tahun bias dengan mudah menyerap informasi dengan jumlah yang luar biasa banyaknya.
2. Anak di bawah usia lima tahun bias menangkap informasi dengan kecepatan yang luar biasa.
3. Semakin banyak informasi yang diserap seorang anak di bawah usia lima tahun, makin banyak pula yang dapat diingatnya.
4. Anak usia di bawah lima tahun mempunyai energi yang sangat besar.
5. Anak usia di bawah lima tahun mempunyai keinginan belajar yang sangat besar.
6. Anak di bawah usia lima tahun dapat belajar membaca dan ingin belajar membaca.
Minat dan semangat anak membaca sangat tergantung pada tiga hal :
1. Kecepatan materi yang ditunjukkan.
2. Jumlah materi baru.
3. Cara mengajar yang menyenangkan.
Cara Agar anak gemar membaca
Agar anak gemar membaca antara lain dengan cara:- Sejak usia dini, biasakan untuk membacakan cerita pada si kecil, hal ini bisa meningkatkan kemampuannya membaca dan menulis lebih awal.
- Ada masanya anak-anak akan malas membaca, ini terutama ketika mereka melewati masa peralihan, misalnya dari SD masuk ke SMP. Biarkan hal ini berlalu secara alami, jangan memaksanya untuk membaca. Untuk menarik minatnya, biarkan mereka membaca apa saja yang disukainya,. Yang terpenting mereka tetap membaca.
- Ketika anak memasuki usia remaja, kesibukannya akan meningkat. Mungkin ia tidak punya waktu lagi untuk membaca satu buku, sebagai gantinya biarkan mereka membaca artikel di majalah atau tulisan lain yang lebih cepat selesai dibaca.
- Saat si kecil akan naik ke kelas 2 adalah waktu yang paling tepat untuk mengetahui kemampuannya membaca. Jika si kecil ternyata memiliki kesulitan membaca, ajaklah ia menemui terapis untuk mendapatkan bantuan.
- Kelas 3 dan 4 adalah masa paling krusial untuk keberhasilan akademisnya. Jika si kecil tidak memiliki kemampuan membaca, bisa jadi ia akan tertinggal. Temukan minat dan kesukaan si kecil pada topik tertentu untuk menarik minatnya membaca.
- Tanamkan kebiasaan membaca di keluarga. Jika sejak dini anak-anak sudah terbiasa melihat kedua orangtuanya membaca, otomatis minat tersebut akan muncul pada dirinya.
- Berikan buku sebagai hadiah dan ajak si kecil menabung untuk membeli sebuah buku, tidak harus yang mahal, sesekali ajak anak-anak mendatangi pameran buku yang memberi harga diskon.
- Biasakan meletakkan bacaan di sekitar rumah, atau di dalam mobil. Biarkan si kecil melihat bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan berguna.
- Ajak anak-anak berdiskusi tentang buku yang mereka baca, biarkan mereka merasa seperti ahli dan Anda seperti orang yang membutuhkan banyak informasi.
- Memberi pengertian kepada anak tentang keutamaan serta pentingnya membaca dan ilmu pengetahuan pada anak. gunakan komunikasi atau sarana lain yang mudah dimengerti oleh anak.

Berikut ini 10 tips yang dapat di praktekkan.
1. Jadikan diri Anda sebagai contoh nyata terdekatnya dan pastikan anak melihat langsung Anda membaca dan menikmatinya.
2. Bacakan cerita kepada anak. Dan jadikanlah kegiatan membacakan cerita sebuah kegiatan rutin, meskipun anak sudah dapat membaca sendiri di kemudian harinya.
3. Dorong anak untuk bertanya dari cerita yang sudah Anda bacakan dan juga sebaliknya. Anda dapat memberikan pertanyaan seperti : “Kira-kira setelah ini apa yang akan terjadi?” atau “Kenapa anak perempuan dalam cerita ini sedih sekali?”
4. Jika anak sedang membacakan cerita kepada Anda, dengarkan dengan penuh perhatian dan kesabaran, jangan terlalu sering membenarkan kata-kata yang salah dibacanya.
5. Sediakan majalah terbitan terbaru atau buku cerita anak-anak. Biasakan mengajak anak ke toko buku secara rutin atau bahkan ke Perpustakaan jika ada di daerah tempat Anda tinggal. Jika memungkinkan, buatkan satu sudut mungil di kamar anak Anda sebuah ‘Perpustakaan Kecil’ berisi koleksi buku-buku pribadinya.
6. Untuk menambah perbendaharaan kata-katanya, terangkan arti dari setiap kata-kata baru ketika Anda sedang membacakan cerita.
7. Sarankan anak untuk membaca buku yang sudah ia ketahui ceritanya. Pengulangan membaca buku yang sama dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan membacanya.
8. Jika anak Anda mempunyai kakak atau adik, sarankan anak untuk membacakan cerita kepada kakak/adiknya.
9. Pilihkan buku atau pun majalah yang tepat atau sesuai untuk usia anak Anda, jika pilihan buku / majalah terlalu sulit hal ini dapat menyebabkan kendornya motivasi anak untuk membaca. Pastikan juga bahwa anak Anda menikmati kegiatan membaca ini. Jika anak Anda menyukai buku tulisan pengarang tertentu, bantu agar si anak dapat menemukan buku-buku lainnya dengan pengarang yang sama. Dorong dan dukung juga minat anak untuk menjelajahi topik-topik yang menarik dan disukainya.
10. Pastikan juga kegiatan membaca ini dilakukan di tempat yang nyaman dengan penerangan yang cukup. Kegiatan membaca otomatis dapat mengurangi kegiatan lainnya seperti menonton TV dan mengoperasikan computer secara berlebihan. (Sylvie Gill)
Sumber: Ladies’ Home Journal sit. keluargacemara.ne
dan
http://kompas.com/wanita/news/0606/05/153900.htm
Tips Mengatasi Malas Belajar Pada Anak
Sumber : Sixtus Tanje, S.Psi Konselor di SLTP St. Kristoforus 2, Jakarta Barat
Seusai mengambil raport di sekolah, wajah ibu Rita nampak kesal dan marah-marah kepada Andi anaknya. Kekesalan itu dikarenakan nilai raport Andi pas-pasan. Berbeda dengan semester sebelumnya nilai raport Andi kali ini termasuk sangat melorot. ?Kamu sih, malas belajar!? bentak Ibu Andi di depan wali kelasnya. Ilustrasi di atas adalah sebuah gambaran kekecewaan seorang Ibu atas hasil belajar anaknya. Kekecewaan itu bertambah, manakala sang ibu mengingat anaknya malas belajar selama semester ini. Di samping itu, akibat perilaku Andi di sekolah selama semester ini ibunya tiga kali dipanggil guru ke sekolah. Tetapi apakah semua kesalahan itu pantas diajukan pada diri Andi? Apakah tidak sebaiknya hal itu menjadi ?cermin? introspeksi bagi diri orang tua Andi? Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak.
Malas belajar timbul dari beberapa sebab antara lain:
1. Dari dalam diri anak (Intrinsik) Rasa malas yang timbul dalam diri anak dapat disebabkan karena tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain atau terlalu banyak membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah?marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.
2. Dari Luar Diri anak (ekstrinsik) Faktor dari luar anak (faktor eksternal) tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena :
a. Sikap orangtua Sikap orangtua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar ataupun sebaliknya orangtua terlalu berlebihan perhatiaannya, membuat anak malas belajar. Tidak hanya itu, banyak orangtua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress sehingga nilai yang diperolehnya kurang memuaskan. Parahnya lagi, bilamana anak mendapat nilai yang kurang memuaskan maka kalimat-kalimat celaan biasanya yang pertama keluar dari bibir orangtua. Anak usia Sekolah Dasar sebenarnya jangan terlalu diorientasikan pada nilai (hasil belajar) tetapi bagaimana membiasakan diri anak belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih hidup dalam suatu aturan.
b. Sikap guru Selaku figur atau tokoh teladan yang dibanggakan, tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek ?keluhan? siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau ?membawa? masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.
c. Sikap teman.
Tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah atau alat tulis, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orangtuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.d. Suasana belajar di rumah Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas?fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.
e. Sarana Belajar Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku?buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku?buku pelajaran, buku tulis, dan alat?alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Enam Langkah Mengatasi Malas Belajar Anak Ada enam langkah yang dapat membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar antara lain:
1. Mencari Informasi Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.
2. Membuat Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak. Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orangtua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.
3. Menciptakan Disiplin. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orangtua. Orangtua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orangtua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku?buku pelajaran, mengingatkan tugas?tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan?kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.
4. Menegakkan Kedisiplinan. Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan?kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, menyulam, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
5. Ketegasan Sikap Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ?tidak jujur? melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.
6. Menciptakan Suasana Belajar Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian. Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orangtua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang. Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah seharusnya ibu Rita tidak lagi marah-marah si Andi putranya sebagaimana digambarkan pada ilustrasi tadi.
Thursday, July 9, 2009
Cara mendidik anak agar menjadi pintar
Menjadi anak pintar bukanlah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan saja. Melainkan ada beberapa faktor atau cara mendidik yang membuat seorang anak memiliki otak encer dibanding yang lain. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh MSNNews tentang seharusnya pendidikan yang didapat anak.
Pendidikan yang saya sebut disini bukanlah formal di sekolah. Melainkan yang harus dilakukan orang tua di rumah. Berikut beberapa cara yang membuat anak dapat menjadi lebih pintar dibanding yang lain :
Bermain musik
Cara ini dapat merangsang pertumbuhan otak kanan. Dan dari studi yang dilakukan oleh universitas Toronto, ini dapat meningkatkan IQ dan nilai akademis anak. Bintang pernah membaca sebuah artikel kenapa orang zionis israel menjadi pintar. Salah satunya adalah sejak masih dini mereka sudah dilatih konsentrasinya dengan bermain Piano.
Mengembangkan rasa ingin tahu anak
Pendidikan yang sukses karena anak pintar selalu ingin tahu akan hal baru. Maka daripada itu sejak kecil biasakan anda sebagai orang tua harus selalu menunjukkan rasa ingin tahu kepada anak.
Dengan begitu anda tidak perlu menyuruh anak untuk belajar ini itu. Karena dia sendiri yang akan penasaran. Otomatis dengan semakin banyak yang dia pelajari akan membuatnya menjadi pintar. Cara mendidik yang baguskan?
Budayakan membaca
Dengan kegiatan membaca akan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan perkembangan kognitif anak. Lalu bagaimana cara untuk melakukannya? Membacakan dongeng untuk anak bisa menjadi salah satu jalan keluar. Cara lain, berikan anak hadiah sebuah buku yang dapat menarik perhatiannya.
Apalagi sekarang sudah zaman internet, mengapa tidak gunakan itu senjata dalam mendidik? Internet sudah terbukti cara ampuh untuk membuat orang sering membaca. Tentu saja karena ini untuk pendidikan anak untuk menjadi pintar, harus tetap ditemani oleh Orang Tua.
Kepercayaan diri
Mendidik anak pintar yang baik adalah membuatnya percaya diri dan selalu optimis bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Salah satu cara adalah berpatisipasi dalam kegiatan olahraga maupun sosial dapat membantunya.Dan jangan sekalipun mendidik anak sehingga dia menjadi tidak PD.
Salah satu contoh adalah Ketika seorang ibu mengkritik gambar anaknya karena langitnya berwarna merah bukan biru. Sepertinya hal itu sepele. Tapi itu bukan pendidikan anak yang bagus. Karena anak jadi takut melakukan sesuatu karena salah. Dan manusia yang tidak pernah melakukan sesuatu bagaimana mungkin menjadi pintar.
Beberapa hal lain yang dapat membuat anak menjadi pintar adalah dengan tentu saja memberikan ASI, menyingkirkan makanan cepat saji dan memberikan makanan yang sehat, membiasakan berolahraga. Mudah-mudahan jika anda mendidik dengan pendidikan seperti cara diatas, anak bisa menjadi lebih pintar.
Cara mendidik anak menurut islam
Cara mendidik anak
Syekh uthaimin
Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka
selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang
cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap
menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-
hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga
orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya,
jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan
keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa
karenanya.
Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan
tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik
dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya.
Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai
berikut:
1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca
basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak
mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red).
Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang
makan.
2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya
mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam
mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan
jangan sampai mengotori pakaian.
3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus
pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan
kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu
banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini
untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut
saja.
4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal
makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu
cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia
melepaskannya.
5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan
warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu
hanya untuk kaumwanita.
6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya
mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya
hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-
hal ini.
7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa
bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka
bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang
jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia
memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras
kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang
salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan
memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.
8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku-
buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya,
hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia
juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah
orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa
mencintai dan menela-dani mereka.
Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah,
Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar
tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang
banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat
kemampuan anak.
9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya
sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan
jiwa.
10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-
syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan
kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.
11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan
segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia-
kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan
disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang
dilakukannya tidak baik.
12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi
di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan
kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci
dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi,
sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh
lagi dengan kemarahan.
13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi
dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali
pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan
perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak
bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan
dari ayah.
14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan
rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari
jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan
dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan
dan melemahnya kondisi badan.
15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk
karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam
kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena
terlalu lama tidur dan kurang gerak.
16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi,
sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan
bahwa itu tidak baik.
17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu
pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah
(atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa
menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.
18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak
(berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.
19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya,
pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia
ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.
20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu
mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan
rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan,
melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.
21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari
keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan
menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap
tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu
adalah perbuatan mulia dan terhormat.
22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat
umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama
muslim dan banyak menguap.
23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan
menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan
memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak.
Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa sallam.
24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau
dzikir kepada Allah.
25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau
dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.
26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti
melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-
orang yang suka melakukan hal itu.
27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam
kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan
mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.
28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk
melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar,
membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.
29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus
diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan
bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan
berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-
perintah.
30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru,
pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua.
Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa
mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).
31. Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa
tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah
ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di
antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi
pendidikan anak perempuan.
Wallahu a'lam.
Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''"
asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah .
Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi
Cara Mendidik Anak dengan Menghukum/Memukul
----- Original Message -----
From: RI
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Cara mendidik anak
Ingin cerita pengalaman saya dengan anak saya Razi. Saya bukan ahli pendidikan, jadi caranya saya meraba-raba saja.
Karena buat anak2 seperti anak kita susah dijelaskan "salah" atau "benar", waktu anak saya Razi dulu waktu masih kecil saya menerapkan "boleh" dan "tidak boleh"
lebih dulu, meski dia tidak ngerti. Saya membatasi ( seperti pernah juga dulu saya cerita ) hal yang "tidak boleh" dilakukannya sesedikit mungkin : yang membahayakan dirinya atau yang membahayakan orang lain ditambah bila hal yang dilakukannya tidak sopan. Diluar itu semua "boleh" ( kawatir kalau banyak yang tidak boleh malah membuat dia tidak berkembang samasekali). Untuk anak saya, saya pikir berhasil, karena sekarang ( 13 tahun ) dia patuh dan juga sayang kepada kami orang tuanya.
Yang jelas harus ada kesatuan pendapat antara Bapaknya dan Ibunya. jangan sampe yang "boleh" sama ibunya tapi "tidak boleh " sama bapaknya. Akibatnya si Bapak meghukum, si ibu membela, maka si anak akan bingung.
Untuk yang "tidak boleh" disamping dengan mulut dan ekspresi marah, saya juga menggunakan tangan ( cara ini mungkin banyak ibu atau bapak anggota milis yang tidak setuju, apa boleh buat ). Kalau hal itu dilakukannya maka sambil melarang saya memukul pantatnya atau kalau tidak mempan saya akan mecubit pantatnya sampai dia nangis, lalu saya biarkan nangis sampai berhenti. Saya larang siapa saja membujuk, atau berlaku manis dalam kurun waktu itu, termasuk ibunya. kalau diulang lagi saya akan kembali memukul atau mencubit pantatnya juga sampai dia nangis.
Sesudah dia merasa tidak ada yang membelanya dan berhenti menangis baru saya perlakukan kembali sebagaimana biasa, merangkulnya atau bicara dengan dia, untuk menunjukkan bahwa saya sebenarnya sangat sayang sama dia.
Ada beberapa hal yang "tidak boleh" itu dilakukannya di tempat publik misalnya di pertemuan keluarga, di supermarket atau bahkan disekolahnya. Saya tetap
menghukumnya ( meski isteri saya marah-2 pada saya, karena malu ) dengan cara itu ditempat kejadian. Misalnya di supermarket dia mengayun-2 kan kayu panjang tanpa peduli dengan orang yang rame disekelilingnya.
Sesudah agak gedean ( umur 6 - 8 tahun ) dia main perosotan di pegangan tangga antar lantai atau lari2 naik turun eskalator yang lagi jalan. Saya uber dan saya pukul
ditempat itu juga. Mungkin pengunjung melihat saya seperti ayah yang kejam yang senang mukul anak. Apa boleh buat, masalahnya kalau saya tunggu sampe ke rumah baru marah, karena rentang ingatannya yang pendek, kalo dirumah mungkin dia bingung saya marahin dia soal apa ( dia sudah lupa kelakuannya di keramaian diatas ), jadi bisa jadi kemarahan saya tidak efektip.
Atau di rumah, meniru yang dilakukan tukang memperbaiki genteng rumah saya, pernah dua kali anak saya naik ke atas genteng ( waktu saya ada dirumah ) dan jalan mondar mandir di puncak atap dengan santai sampe tukang becak dan tetangga yang ada disekitar rumah teriak2 menyuruh turun ( ini juga dulu pernah saya ceritakan ). saya bujukin dia supaya turun, saya janjikan Mc Donald, pizza atau apa saja yang dia suka. Begitu dia menginjak lantai saya "hajar" pantatnya sampai dia nangis dengan ekspresi marah.
Baru sesudah reda tangisnya dan juga kemarahan saya ( lebih tepat ketakutan saya ), saya bawa dia membeli yang saya janjikan itu, cukup jauh tempatnya lebih kurang sejam naik mobil ke BSD atau Bintaro dari rumah saya di Pamulang. Padahal makannya cuma butuh waktu lima menit, belum keluar dari lapangan parkir, yang dimakannya udah habis.
Yang tidak sopan, pernah satu kali di mesjid dia menunjuk-2 ke arah mulut seorang Bapak2 yang sudah agak tua. Si Bapak mulutnya sumbing. Saya coba jelaskan, bahwa mulut Bapak itu luka, belum sembuh. Dia seperti terpesona terus memelototi si bapak. Akhirnya saya angkat tangan saya, sambil ngomong : kalau terus begitu Razi nanti saya pukul. Baru dia berhenti ngeliat si bapak. Jadi saya urung memukulnya.
Syukurlah, paling banyak dua atau tiga kali saya perlu menghukum untuk kelakuan yang sama. Sisanya bila ada yang "tidak boleh" dilakukannya, paling paling saya cuma perlu ngomong atau dengan gerak mengancam mengangkat tangan saya siap memukul dia langsung surut. Dan lebih syukur lagi beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi saya harus menggunakan tangan seperti dulu itu, dia sudah ngerti
kalau dibilang tidak boleh dan sekarang sudah mengerti sedikit demi sedikit "salah" dan "benar". Dia bisa membedakan kalau saya lagi bercanda, atau lagi marah.
Kalau saya tendang pantatnya secara main2, dia pasti nguber saya buat ngebalas. Tapi kalo dia liat saya marah, dia sudah buru2 minta maaf, biarpun saya tidak nyenggol
dia sekalipun.
Biar bagaimana Bu, ini cara yang pernah saya terapkan buat anak saya. belum tentu berhasil buat yang lain. Kalau terpaksa, mungkin Ibu bisa pake cara ini, kalo ada cara lain yang kurang "vulgar", ya lebih baik pake cara itu.
Wassalam,
Ro (ayah Razi )
----- Original Message -----
From: EP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Cara mendidik anak
Nimbrung juga, menurut pengalaman saya selama ini, seorang Bapak, walaupun hanya mencubit secara pelan keanak itu akan mengakibatkan trauma yang besar buat anak itu. Contoh ga sengaja Papanya Andro pernah mencubit kecil kakaknya Andro yang paling besar, karena kenakalannya, sehingga waktu dia nakal lagi, dan Papanya mau cubit, dia sudah lari ketakutan, apalagi denger suara besar dengan nada tinggi.
Tapi kalau kita/Ibu, walaupun dengan udah suara dengan nada Tenor tetep aja ga digubris. Sejak itu saya tidak pernah memperbolehkan Papanya memarahi karena tugas marah itu tugas saya, dan itu memang ada dalam nasehat Rasul.
Dan ini juga saya terapkan dari pengalaman orang tua saya, saya sangat takut sekali kalau Bapak saya sudah bersuara dengan suara keras, tugas marah adalah mama. Bapak saya ga pernah marahiin anaknya, tapi kami semua hormat dan sayang sama beliau serta bangga, kami tidak pernah merasakan pukulannya sedikitpun, pada hal anaknya termasuk saya adalah anak yang bandel banget. Bila menegurpun dengan bijaksana, ada pengalaman saya, saya selalu setel tape/radio or TV dengan suara
keras, Bapak hanya menegur " Er... tetangga sebelah TV mereka lebih besar loh, tapi suaranya ga kedengeran tuch sampai luar" akhirnya saya hanya malu sendiri dan mengecilkan suara TV.
Dengan Andro juga saya begitu, misalnya dia saya tidak perbolehkan makan atau main yang membahayakan, tapi tetep ngotot, maka baru saya bilang "Boleh kok Andro makan ini, tapi nanti Badan Andro sakit" biasanya dia ga ngotot lagi.
Sekarang anak-anak tahu kalau saya sudah panggil mereka dengan nama
lengkap, tandanya saya sudah marah ! baru dech ada sahutan dari mereka.
Sekedar sharing aja.
----- Original Message -----
From: RT
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Saya juga mau ikutan sharing....sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang saya ceritakan keluar dari jalur "Anak2 Spesial" tapi ini masih berhubungan dengan anak2 tersayang..
Masa kecil saya penuh warna dari mulai kebahagiaan karena saya anak tunggal sampai kesedihan..karena orangtua yang masih muda ...blm mempunyai sikap kedewasaan (Ortuku menikah usia 17thn & usia 18thn sdh dikarunia anak).
Papaku sangat temperamen.sekali sekecil apapun kesalahan yang saya buat pasti saya kena tamper dimuka / rambut dijambak dll, tidak peduli itu ditempat siapa / dimana, yang jelas..saya harus siap setiap hari kena tamparan atau jambakan di rambut (Rambut saya panjang) & pasti anak dibawah umur 12thn akan selalu ada tingkah & lakunya yang membuat ortu marah / kesal. & Jadilah..saya kenyang menerima itu semua..
Mama saya..bukan tidak peduli tapi tidak bisa berbuat apa2 malah semua tambah parah & kacau .. karena setiap hari selalu ada ketidakcocokan antara Mama & Papa, hampir setiap hari selalu ada piring terbang, kaca pecah atau apapun rusak karena pertengkaran ortuku..
Dari semenjak saat itu saya bertekad bahwa saya harus bisa hidup & berhasil ..Alhamdulillah walaupun tertatih-tatih & Airmata saya bisa menyelesaikan sekolah dengan bantuan beberapa Tente & Om yang bersimpatik atas keadaan saya.
Sampai saat ini…saya akan menangis kalau mengingat semua itu..
Saat sekarang, jika Daffa anak saya bertingkah hal yang membuat saya marah., emosi saya sering tidak terkendali karena kadang saya merasa kalau anak harus dipukul seperti papa saya dulu untuk membuat saya jera..tapi kembali saya tersentak apa yang didapat oleh anak tsb apakah jera??? atau trauma???
Dan akibat yang terparah.saya tidak pernah merasa rindu yang amat sangat..pada mereka karena saya tidak pernah merasa dekat..
Tapi apapun yang terjadi itu jalan hidup..& saya harus menjalaninya Dan apapun masa lalu saya...mereka tetap ORTU saya yang jauh dilubuk hati saya, saya tetap sayangi...
Saya berpesan mengingat masa lalu saya yang penuh dengan hukuman.. .ingatlah bahwa hukuman tidak akan menyelesaikan masalah... yang ada hanya akan menambah masalah di kemudian hari...
Ini hanya sharing..& mudah2an ada manfaatnya...
Salam,
Ri
----- Original Message -----
From: DP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Wah, untung sunah rasul bilang bahwa tugas memarahi ada di ibu...dalam
kasusku adanya itu di rumah smile
Buat ibu Ri di balikpapan, saya saran untuk cari 'tempat muntah' (ember) menumpahkan isi hati dan gundah gulana. Boleh psikolog, psikiater, ulama, temen, sahabat, kerabat. Tapi pastikan orang tersebut bisa dijamin ga' cerita-cerita kemana-mana masalah kita. Soalnya kalau saya sendiri sudah sampai di ubun-ubun permasalahannya tapi bisa cerita ke orang lain, rasanya lebih enak...
Just a thought. Semoga berkenan.
salam,
Ita
----- Original Message -----
From: LM
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Cara Mendidik Anak (memukul anak)
Saya setuju dengan cara pak Ro memberitahu (memperingatkan) si anak saat dia melakukan kesalahan (dimana saja, langsung on the spot). Tapiii.... caranya "main pukul" sepertinya kurang tepat.
Anak ASD punya kelemahan dalam membaca ekspresi wajah, sehingga memang kalau marah sambil melotot saja, bisa jadi anak gak bakalan ngerti.
Sebagai gantinya kita bisa "pegang erat" lengan anak dan gunakan suara keras dan tegas misalnya. Jangan lupa anak ASD punya kelebihan dalam "daya ingat" dan "meniru". saya khawatir malah secara tidak sadar anak juga akan jadi terbiasa dengan cara orang tua memperlakukan dia (secara kasar).
Cara tiap orang tua memang bisa berbeda-beda dalam mendidik anak, tapi sebisa mungkin kita tidak pake cara kasar..... daripada akhirnya kita menyesal di kemudian hari.
Cerita bu Ri di atas yang sampai menimbulkan trauma, mudah-mudahan bisa jadi "pelajaran" bagi kita. Syukur juga ibu Ri selalu ingat bahwa apa yang dilakukan papa dulu pada ibu tidak ikut diterapkan pada Daffa. Terima kasih bu, sudah mau sharing pengalaman pribadi.
Salam,
LM
----- Original Message -----
From: RT
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Bu LM & Bu DP,
Trimakasih.....
Alhamdulillah...saya punya teman yang banyak....& sekarang ada PK....
Sekali lagi....Trimakasih.....saya sudah bisa menceritakan semuanya....
----- Original Message -----
From: Muh. C
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Bu Ri, Bu LM n Bu DP,
Sori ikut nimbrung yach dan juga sudah hampir 2 bulan nggak ikut nimbrung.
Karena topiknya menarik, saya juga mau sharing ...
Aldi 6 thn yang pasti TAKUTNYA hanya sama mamanya, krn memang yang suka menghukum (saya pakai bahasa menghukum sebagai bhs halus utk memukul) adalah MAMAnya, karena saya TIDAK PERNAH sekalipun menghukum dia (kecuali reflex).
Tapi para Ibu , saya juga bingung, karena kalau dia sedang melakukan aktivitas planetnya seperti lari2....atau ngremeng sendiri....dia hanya berhenti kalau mamanya yg kasih kode...kalau saya yg kasih kode...no reken bu. Tapi emang pola yg muncul..SETIAP kali mamanya menghukum ...pasti Aldi larinya ke saya...atau meminjam istilah mamanya..mohon perlindungan ke saya.
Dan memang juga ...3 bulan terakhir ini ..trendnya ...Aldi ... semakin manja dengan saya ...jadi kalau saya pas ada di sby....PASTI ulah dan polahnya seperti anak normal yg manja sama papanya.
So, what should i do ..........melarang mamanya menghukum...saya juga BT sendiri ...karena emang nggak bisa diam anaknya ...menghukum...saya sedih sendiri....akhirnya kaya pribahasa...dimakan ibu mati ....nggak dimakan bapak mati....
pusing...pusing....
----- Original Message -----
From: IT
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Anak saya, Filan (3,5 th) juga hanya nurut sama saya. Sama papanya nurut kadang-kadang. Sama kakek dan neneknya manja banget. Selama ini saya pake jurus Bu Ita untuk menegur dengan INTONASI SUARA yang tegas. Kadang kalau jengkel banget, saya cubit kecil pantatnya (yang ini jarang). paling saya cuma bilang "Filan mau dicubit kecil?" Biasanya ia spontan bilang "nggak..."
Misalnya: dia suka sekali main air (ngepel, cuci-cuci mainan, dll). Kalau udara lagi cerah sih gak papa. Tapi kalau lagi dingin n musim hujan kayak sekarang, kan bisa masuk angin. Saya akan bilang "Filan, tidak main air. Sekarang dingin, nanti bisa masuk angin" dengan gaya tegas sambil langsung angkat dia keluar dari kamar mandi. Biasanya sih, dia nurut sambil bilang "Iya..." walau besoknya main air lagi smile
Tapi kalau yang mengatakan itu papa atau kakek/nenek, ia cuek aja.
Kalau akhirnya diangkat, ia pasti nangis and marah.
In
----- Original Message -----
From: DP
To: peduli-autis
Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA
Sebagai psikolog, cuma mau ngingetin bahwa punishment fisik bisa berbuntut panjang di psikis anak:
1. ekspresi sayang bila dilakukan melalui pemukulan adalah hal yang
WAJAR, bisa-bisa tuanya dia mukulin bini dan anak-anaknya juga dengan
alasan untuk disiplin dsb... kena UU kekerasan dalam rumah tangga,
pak...penjara, euy. Dia, pak yang dipenjara. Kasihan atuh.
2. kita sebagai si 'pemukul' bisa berubah terus tensi-nya...hari ini
mukuldengan intensitas 'medium' mungkin besok karena kita lagi capek,
intensitass menjadi 'large' dan seterusnya...lama-lama bisa-bisa pake
golok...
3. anak, bisa-bisa memendam rasa 'dendam'. jadi ntar begitu dia udah
setinggi monas, dia bisa bales pukul bapak. wadow....by that time bapak
pasti udah ga' sekuat sekarang. percaya deh ama saya, makin gede anak,
kitanya makin keok.
Karena itu saya lebih mementingkan menegakkan "wibawa" dengan
menerapkan "I MEAN WHAT I SAY --- I SAY WHAT I MEAN" kepada anakku
semata wayang. Saya main 'ekspresi wajah', dan 'suara' (yang kata guru-guru mandiga, bisa bikin pabrik TOA bangkrut). Saya setuju bahwa 'konsekuensi' harus diberikan pada saat perilaku dilakukan anak, tapi orang akan lebih setuju bila kita mengekspresikan amarah melalui suara tegas, larangan, dan wajah merengut daripada kita memukul. Jadi selama ini sih...di tempat umum aku cukup berteriak "IKHSAN PRIATAMA" dan tidak terjadi apa-apa kecuali bahwa perilaku dia berhenti (paling resikonya, orang jadi tahu nama lengkap anak, 'kan?).
Masih berulah biarpun udah ditegur? Ya pulang. Susah amat.
Nah, di rumah, bebas aku memarahinya dan melarang segala bentuk kegembiraan.
Puas, deh.
Sekali lagi, itu berarti 'konsisten'. Jadi dia respek sekali kepadaku, sementara itu hubungan kedekatan emosional kami tidak perlu diragukan lagi. Jangan dikira masalah selesai. Oh tidak. Sekarang-sekarang ini lagi pusing-pusingnya soalnya anak 15 tahun kan emang nyebelin (ABG gitu lhooo).
But, love him forever lah.
Something to think about.
salam,
Ita
Sunday, June 7, 2009
Membangun Generasi Gemar Membaca
Tak terasa pada tanggal 17 mei 2009 adalah hari buku nasional. meskipun selebrasi peringatan ini tidak terasa istimewa bagi setiap orang tetapi ini harusnya dapat terasa istimewa di mata pecinta buku. Walaupun tidak perlu diperingati sekalipun, orang tak akan berhenti membaca buku. Inilah istimewa nya hari buku bagi setiap pencinta buku, terlepas dari ada tidaknya peringatan ini.
Dalam mewujudkan bangsa yang berbudaya gerakan gemar membaca buku haruslah ditanamkan sejak dini, walaupun membaca tidak memandang usia tetapi dengan membaca wawasan kita dapat lebih berkembang. Kesadaran seseorang dalam gemar membaca biasanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan pergaulaannya tetapi tidak jarang tumbuh dari dalam diri sendiri yang didasarkan atas keinginan untuk berubah lebih baik.