Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Friday, September 17, 2010

6 Alasan Kenapa Orang Ingin Berhenti Bekerja


Mendapatkan pekerjaan tak semudah seperti membalikkan telap tangan. Namun ketika pekerjaan telah didapatkan, ada saja keluhan yang terucap dari mulut. Kerja pun tanpa hati dan semangat.

Memutuskan berhenti kerja dari sebuah perusahaan memang tidak boleh emosional. Seperti dikutip dari allwomenstalk.com, ada sejumlah alasan yang biasa melatari mereka yang bersemangat untuk berhenti atau resign.

1. Ingin upah lebih tinggi

Ini adalah alasan paling menonjol dalam sejumlah kasus pindah kerja. Jika Anda yakin bisa menghasilkan lebih banyak uang dan tunjangan asuransi di tempat lain, lebih baik keluar dari pekerjaan itu. Pastikan Anda memiliki prioritas tempat kerja lainnya, sebelum benar-benar memutuskan untuk resign.

2. Tidak menikmati

Kadang, orang tidak menikmati pekerjaan mereka. Jika rasa tak nyaman semakin kuat, berpikir pindah kerja tampaknya lebih baik daripada performa memburuk gara-gara memaksakan diri. Kondisi terpaksa itu juga berpotensi membuat stres dan membahayakan kesehatan. Lebih baik, putuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih cocok.

3. Pantas mendapat jabatan lebih baik

Tentu saja, alasan untuk berhenti mungkin karena Anda berpikir layak mendapat posisi atau jabatan lebih baik. Jika ini alasannya, Anda harus memastikan Anda memiliki pekerjaan pengganti yang lebih baik sebelum Anda berhenti.

4. Ada tawaran kerja lebih baik

Jika Anda memiliki tawaran pekerjaan yang lebih baik, maka itu pasti akan menjadi langkah besar. Penawaran pekerjaan harus memiliki efek jangka panjang. Jika harapan jangka panjang tak akan terjamin, lebih baik pertimbangkan untuk bertahan di kantor lama.

5. Jam kerja tak sesuai

Karyawan selalu dituntut untuk menaati aturan perusahaan dan bos. Termasuk tuntutan lembur dan menyelesaikan beban pekerjaan di luar jam kerja. Banyak orang merasa tak tahan dengan jam kerja yang berlebih, karena menyita waktu berkumpul dengan keluarga dan istirahat. Maka tak jarang, kebanyakan orang memilih berhenti kerja karena alasan jam kerja tak sesuai.

6. Butuh waktu merawat anak

Banyak wanita lebih suka memilih pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, karena sekaligus bisa mengawasi anak. Tak jarang wanita karier memutuskan berhenti bekerja di kantor usai menikah dan memiliki anak.

6 Alasan Kenapa Orang Ingin Berhenti Bekerja


Mendapatkan pekerjaan tak semudah seperti membalikkan telap tangan. Namun ketika pekerjaan telah didapatkan, ada saja keluhan yang terucap dari mulut. Kerja pun tanpa hati dan semangat.

Memutuskan berhenti kerja dari sebuah perusahaan memang tidak boleh emosional. Seperti dikutip dari allwomenstalk.com, ada sejumlah alasan yang biasa melatari mereka yang bersemangat untuk berhenti atau resign.

1. Ingin upah lebih tinggi

Ini adalah alasan paling menonjol dalam sejumlah kasus pindah kerja. Jika Anda yakin bisa menghasilkan lebih banyak uang dan tunjangan asuransi di tempat lain, lebih baik keluar dari pekerjaan itu. Pastikan Anda memiliki prioritas tempat kerja lainnya, sebelum benar-benar memutuskan untuk resign.

2. Tidak menikmati

Kadang, orang tidak menikmati pekerjaan mereka. Jika rasa tak nyaman semakin kuat, berpikir pindah kerja tampaknya lebih baik daripada performa memburuk gara-gara memaksakan diri. Kondisi terpaksa itu juga berpotensi membuat stres dan membahayakan kesehatan. Lebih baik, putuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih cocok.

3. Pantas mendapat jabatan lebih baik

Tentu saja, alasan untuk berhenti mungkin karena Anda berpikir layak mendapat posisi atau jabatan lebih baik. Jika ini alasannya, Anda harus memastikan Anda memiliki pekerjaan pengganti yang lebih baik sebelum Anda berhenti.

4. Ada tawaran kerja lebih baik

Jika Anda memiliki tawaran pekerjaan yang lebih baik, maka itu pasti akan menjadi langkah besar. Penawaran pekerjaan harus memiliki efek jangka panjang. Jika harapan jangka panjang tak akan terjamin, lebih baik pertimbangkan untuk bertahan di kantor lama.

5. Jam kerja tak sesuai

Karyawan selalu dituntut untuk menaati aturan perusahaan dan bos. Termasuk tuntutan lembur dan menyelesaikan beban pekerjaan di luar jam kerja. Banyak orang merasa tak tahan dengan jam kerja yang berlebih, karena menyita waktu berkumpul dengan keluarga dan istirahat. Maka tak jarang, kebanyakan orang memilih berhenti kerja karena alasan jam kerja tak sesuai.

6. Butuh waktu merawat anak

Banyak wanita lebih suka memilih pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, karena sekaligus bisa mengawasi anak. Tak jarang wanita karier memutuskan berhenti bekerja di kantor usai menikah dan memiliki anak.

Friday, August 7, 2009

Mengapa Anak Harus Belajar Membaca Sejak Dini

Beberapa alasan yang mendukung mengapa anak usia balita harus diajarkan membaca:

· Hiperaktivitas seorang anak usia balita ternyata diakibatkan oleh kehausan ilmu pengetahuan. Jika dia diberikan kesempatan untuk memuaskan rasa dahaga itu, setidaknya untuk sementara waktu , hiperaktivitasnya akan berkurang sehingga lebih mudah untuk melindunginya dari bahaya.

· Lebih mudah mengajar seorang anak membaca pada usia balita daripada pada usia yang lebih tua.

· Anak-anak yang diajarkan membaca pada usia balita akan menyerap lebih banyak informasi daripada anak-anak yang usianya lebih tua.

Hal yang sangat penting kita ketahui dari sudut pandang neurologis bahwa membaca sama sekali bukan suatu mata pelajaran sekolah. Membaca adalah suatu fungsi otak. Jadi proses membaca itu sama seperti proses mendengar yang juga merupakan fungsi otak. Jadi sangat penting dan merupakan suatu keharusan bagi kita sebagai orang tua untuk mengajar membaca anak kita pada usia sedini mungkin.

Selama masa kehidupan ini, belajar merupakan kebutuhan yang utama dan mendesak, dan kita akan melawan alam jika mencoba menghalanginya. Belajar itu penting untuk kelangsungan hidup manusia.

Anak kucing yang “ bermain “ dengan bola wol sebenarnya menggunakan bola itu sebagai pengganti tikus. Anak anjing yang “ bermain “ sambil bergulat dengan anak anjing lainnya sebenarnya sedang belajar untuk bertahan jika diserang.

Kelangsungan hidup manusia di dunia ini tergantung pada kemampuannya untuk berkomunikasi dan bahasa adalah alat komunikasi itu.

Permainan anak, seperti halnya permainan anak kucing, yang mempunyai tujuan tertentu, yaitu untuk belajar dan bukan untuk kesenangan saja.

Belajar adalah petualangan yang paling besar dalam kehidupan ini. Belajar itu sangat diperlukan, sangat penting, tidak terelakkan dan diatas segalanya, belajar merupakan permainan kehidupan yang paling berharga dan yang paling menggairahkan. Seorang anak percaya akan hal ini dan akan terus mempercayainya kecuali jika kita berhasil meyakinkan bahwa hal itu tidak benar.

Syarat terpenting adalah di antara orang tua dan anak harus ada pendekatan yang menyenangkan, karena belajar membaca adalah permainan yang bagus sekali. Orang tua tidak boleh lupa bahwa:

· Belajar adalah permainan hidup yang paling menggairahkan dan belajar bukanlah bekerja.

· Belajar adalah pahala, bukan hukuman.

· Belajar adalah bersenang-senang, bukan bersusah payah.

· Belajar adalah suatu kehormatan bukan sesuatu yang hina.

Ada suatu dalil ( Hukum Anti Gagal ) yang selalu harus anda ingat, yaitu : Jika suasana hati anda dan suasana hati anak Anda sedang tidak baik, berhentilah mengajar, Anda pasti akan melakukan sesuatu yang salah jika Anda teruskan. Hentikanlah sebelum anak Anda ingin mengakhirinya.

Sebelum kita membahas cara mengajarkannya membaca, ada hal-hal penting yang perlu diingat mengenai seorang anak :

1. Anak di bawah usia lima tahun bias dengan mudah menyerap informasi dengan jumlah yang luar biasa banyaknya.

2. Anak di bawah usia lima tahun bias menangkap informasi dengan kecepatan yang luar biasa.

3. Semakin banyak informasi yang diserap seorang anak di bawah usia lima tahun, makin banyak pula yang dapat diingatnya.

4. Anak usia di bawah lima tahun mempunyai energi yang sangat besar.

5. Anak usia di bawah lima tahun mempunyai keinginan belajar yang sangat besar.

6. Anak di bawah usia lima tahun dapat belajar membaca dan ingin belajar membaca.

Minat dan semangat anak membaca sangat tergantung pada tiga hal :

1. Kecepatan materi yang ditunjukkan.

2. Jumlah materi baru.

3. Cara mengajar yang menyenangkan.


Cara Agar anak gemar membaca

Buku adalah jendela ilmu, tentu semua orang setuju dengan ungkapan tersebut. Tetapi banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya malas membaca.
Agar anak gemar membaca antara lain dengan cara:

- Sejak usia dini, biasakan untuk membacakan cerita pada si kecil, hal ini bisa meningkatkan kemampuannya membaca dan menulis lebih awal.

- Ada masanya anak-anak akan malas membaca, ini terutama ketika mereka melewati masa peralihan, misalnya dari SD masuk ke SMP. Biarkan hal ini berlalu secara alami, jangan memaksanya untuk membaca. Untuk menarik minatnya, biarkan mereka membaca apa saja yang disukainya,. Yang terpenting mereka tetap membaca.

- Ketika anak memasuki usia remaja, kesibukannya akan meningkat. Mungkin ia tidak punya waktu lagi untuk membaca satu buku, sebagai gantinya biarkan mereka membaca artikel di majalah atau tulisan lain yang lebih cepat selesai dibaca.

- Saat si kecil akan naik ke kelas 2 adalah waktu yang paling tepat untuk mengetahui kemampuannya membaca. Jika si kecil ternyata memiliki kesulitan membaca, ajaklah ia menemui terapis untuk mendapatkan bantuan.

- Kelas 3 dan 4 adalah masa paling krusial untuk keberhasilan akademisnya. Jika si kecil tidak memiliki kemampuan membaca, bisa jadi ia akan tertinggal. Temukan minat dan kesukaan si kecil pada topik tertentu untuk menarik minatnya membaca.

- Tanamkan kebiasaan membaca di keluarga. Jika sejak dini anak-anak sudah terbiasa melihat kedua orangtuanya membaca, otomatis minat tersebut akan muncul pada dirinya.

- Berikan buku sebagai hadiah dan ajak si kecil menabung untuk membeli sebuah buku, tidak harus yang mahal, sesekali ajak anak-anak mendatangi pameran buku yang memberi harga diskon.

- Biasakan meletakkan bacaan di sekitar rumah, atau di dalam mobil. Biarkan si kecil melihat bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan berguna.

- Ajak anak-anak berdiskusi tentang buku yang mereka baca, biarkan mereka merasa seperti ahli dan Anda seperti orang yang membutuhkan banyak informasi.

- Memberi pengertian kepada anak tentang keutamaan serta pentingnya membaca dan ilmu pengetahuan pada anak. gunakan komunikasi atau sarana lain yang mudah dimengerti oleh anak.


Berikut ini 10 tips yang dapat di praktekkan.

1. Jadikan diri Anda sebagai contoh nyata terdekatnya dan pastikan anak melihat langsung Anda membaca dan menikmatinya.

2. Bacakan cerita kepada anak. Dan jadikanlah kegiatan membacakan cerita sebuah kegiatan rutin, meskipun anak sudah dapat membaca sendiri di kemudian harinya.

3. Dorong anak untuk bertanya dari cerita yang sudah Anda bacakan dan juga sebaliknya. Anda dapat memberikan pertanyaan seperti : “Kira-kira setelah ini apa yang akan terjadi?” atau “Kenapa anak perempuan dalam cerita ini sedih sekali?”

4. Jika anak sedang membacakan cerita kepada Anda, dengarkan dengan penuh perhatian dan kesabaran, jangan terlalu sering membenarkan kata-kata yang salah dibacanya.

5. Sediakan majalah terbitan terbaru atau buku cerita anak-anak. Biasakan mengajak anak ke toko buku secara rutin atau bahkan ke Perpustakaan jika ada di daerah tempat Anda tinggal. Jika memungkinkan, buatkan satu sudut mungil di kamar anak Anda sebuah ‘Perpustakaan Kecil’ berisi koleksi buku-buku pribadinya.

6. Untuk menambah perbendaharaan kata-katanya, terangkan arti dari setiap kata-kata baru ketika Anda sedang membacakan cerita.

7. Sarankan anak untuk membaca buku yang sudah ia ketahui ceritanya. Pengulangan membaca buku yang sama dapat mendorong dan meningkatkan kemampuan membacanya.

8. Jika anak Anda mempunyai kakak atau adik, sarankan anak untuk membacakan cerita kepada kakak/adiknya.

9. Pilihkan buku atau pun majalah yang tepat atau sesuai untuk usia anak Anda, jika pilihan buku / majalah terlalu sulit hal ini dapat menyebabkan kendornya motivasi anak untuk membaca. Pastikan juga bahwa anak Anda menikmati kegiatan membaca ini. Jika anak Anda menyukai buku tulisan pengarang tertentu, bantu agar si anak dapat menemukan buku-buku lainnya dengan pengarang yang sama. Dorong dan dukung juga minat anak untuk menjelajahi topik-topik yang menarik dan disukainya.

10. Pastikan juga kegiatan membaca ini dilakukan di tempat yang nyaman dengan penerangan yang cukup. Kegiatan membaca otomatis dapat mengurangi kegiatan lainnya seperti menonton TV dan mengoperasikan computer secara berlebihan. (Sylvie Gill)



Sumber: Ladies’ Home Journal sit. keluargacemara.ne
dan
http://kompas.com/wanita/news/0606/05/153900.htm

Tips Mengatasi Malas Belajar Pada Anak

Seusai mengambil raport di sekolah, wajah ibu Rita nampak kesal dan marah-marah kepada Andi anaknya. Kekesalan itu dikarenakan nilai raport Andi pas-pasan. Berbeda dengan semester sebelumnya nilai raport Andi kali ini termasuk sangat melorot. ?Kamu sih, malas belajar!? bentak Ibu Andi di depan wali kelasnya. Ilustrasi di atas adalah sebuah gambaran kekecewaan seorang Ibu atas hasil belajar anaknya. Kekecewaan itu bertambah, manakala sang ibu mengingat anaknya malas belajar selama semester ini. Di samping itu, akibat perilaku Andi di sekolah selama semester ini ibunya tiga kali dipanggil guru ke sekolah. Tetapi apakah semua kesalahan itu pantas diajukan pada diri Andi? Apakah tidak sebaiknya hal itu menjadi ?cermin? introspeksi bagi diri orang tua Andi? Malas belajar pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak.

Malas belajar timbul dari beberapa sebab antara lain:
1. Dari dalam diri anak (Intrinsik) Rasa malas yang timbul dalam diri anak dapat disebabkan karena tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain atau terlalu banyak membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah?marah (ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.

2. Dari Luar Diri anak (ekstrinsik) Faktor dari luar anak (faktor eksternal) tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena :

a. Sikap orangtua Sikap orangtua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar ataupun sebaliknya orangtua terlalu berlebihan perhatiaannya, membuat anak malas belajar. Tidak hanya itu, banyak orangtua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress sehingga nilai yang diperolehnya kurang memuaskan. Parahnya lagi, bilamana anak mendapat nilai yang kurang memuaskan maka kalimat-kalimat celaan biasanya yang pertama keluar dari bibir orangtua. Anak usia Sekolah Dasar sebenarnya jangan terlalu diorientasikan pada nilai (hasil belajar) tetapi bagaimana membiasakan diri anak belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih hidup dalam suatu aturan.

b. Sikap guru Selaku figur atau tokoh teladan yang dibanggakan, tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek ?keluhan? siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran yang akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah. Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda dengan siswa-siswa tertentu saja atau ?membawa? masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.

c. Sikap teman.
Tidak semua teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan busana sekolah atau perlengkapan belajar, seperti sepatu yang bermerk yang tidak terjangkau oleh teman-teman lainnya, termasuk tas sekolah atau alat tulis, secara tidak langsung dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak yang menuntut kepada orangtuanya untuk minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Bilamana tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dikabulkan permohonannya.

d. Suasana belajar di rumah Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas?fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.

e. Sarana Belajar Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar. Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku?buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku?buku pelajaran, buku tulis, dan alat?alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Enam Langkah Mengatasi Malas Belajar Anak Ada enam langkah yang dapat membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar antara lain:

1. Mencari Informasi Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.

2. Membuat Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak. Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orangtua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.

3. Menciptakan Disiplin. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orangtua. Orangtua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orangtua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan belajar, buku?buku pelajaran, mengingatkan tugas?tugas sekolah, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan?kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas sekolah.

4. Menegakkan Kedisiplinan. Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan?kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak belajar, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, menyulam, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.
5. Ketegasan Sikap Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orang tua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ?tidak jujur? melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam belajar. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.

6. Menciptakan Suasana Belajar Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian. Ternyata malas belajar yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orangtua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang. Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah seharusnya ibu Rita tidak lagi marah-marah si Andi putranya sebagaimana digambarkan pada ilustrasi tadi.


Sumber : Sixtus Tanje, S.Psi Konselor di SLTP St. Kristoforus 2, Jakarta Barat

Thursday, July 9, 2009

Cara mendidik anak agar menjadi pintar




Menjadi anak pintar bukanlah sebuah anugerah yang diberikan oleh Tuhan saja. Melainkan ada beberapa faktor atau cara mendidik yang membuat seorang anak memiliki otak encer dibanding yang lain. Berikut beberapa hal yang disampaikan oleh MSNNews tentang seharusnya pendidikan yang didapat anak.

Pendidikan yang saya sebut disini bukanlah formal di sekolah. Melainkan yang harus dilakukan orang tua di rumah. Berikut beberapa cara yang membuat anak dapat menjadi lebih pintar dibanding yang lain :

Bermain musik
Cara ini dapat merangsang pertumbuhan otak kanan. Dan dari studi yang dilakukan oleh universitas Toronto, ini dapat meningkatkan IQ dan nilai akademis anak. Bintang pernah membaca sebuah artikel kenapa orang zionis israel menjadi pintar. Salah satunya adalah sejak masih dini mereka sudah dilatih konsentrasinya dengan bermain Piano.

Mengembangkan rasa ingin tahu anak
Pendidikan yang sukses karena anak pintar selalu ingin tahu akan hal baru. Maka daripada itu sejak kecil biasakan anda sebagai orang tua harus selalu menunjukkan rasa ingin tahu kepada anak.

Dengan begitu anda tidak perlu menyuruh anak untuk belajar ini itu. Karena dia sendiri yang akan penasaran. Otomatis dengan semakin banyak yang dia pelajari akan membuatnya menjadi pintar. Cara mendidik yang baguskan?

Budayakan membaca
Dengan kegiatan membaca akan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan perkembangan kognitif anak. Lalu bagaimana cara untuk melakukannya? Membacakan dongeng untuk anak bisa menjadi salah satu jalan keluar. Cara lain, berikan anak hadiah sebuah buku yang dapat menarik perhatiannya.

Apalagi sekarang sudah zaman internet, mengapa tidak gunakan itu senjata dalam mendidik? Internet sudah terbukti cara ampuh untuk membuat orang sering membaca. Tentu saja karena ini untuk pendidikan anak untuk menjadi pintar, harus tetap ditemani oleh Orang Tua.

Kepercayaan diri
Mendidik anak pintar yang baik adalah membuatnya percaya diri dan selalu optimis bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Salah satu cara adalah berpatisipasi dalam kegiatan olahraga maupun sosial dapat membantunya.Dan jangan sekalipun mendidik anak sehingga dia menjadi tidak PD.

Salah satu contoh adalah Ketika seorang ibu mengkritik gambar anaknya karena langitnya berwarna merah bukan biru. Sepertinya hal itu sepele. Tapi itu bukan pendidikan anak yang bagus. Karena anak jadi takut melakukan sesuatu karena salah. Dan manusia yang tidak pernah melakukan sesuatu bagaimana mungkin menjadi pintar.

Beberapa hal lain yang dapat membuat anak menjadi pintar adalah dengan tentu saja memberikan ASI, menyingkirkan makanan cepat saji dan memberikan makanan yang sehat, membiasakan berolahraga. Mudah-mudahan jika anda mendidik dengan pendidikan seperti cara diatas, anak bisa menjadi lebih pintar.

Cara mendidik anak menurut islam




Cara mendidik anak

Syekh uthaimin



Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka

selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang

cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap

menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-

hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga

orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya,

jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan

keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa

karenanya.



Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan

tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik

dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya.

Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai

berikut:



1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca

basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak

mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red).

Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang

makan.



2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya

mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam

mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan

jangan sampai mengotori pakaian.



3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus

pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan

kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu

banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini

untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut

saja.



4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal

makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu

cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia

melepaskannya.



5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan

warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu

hanya untuk kaumwanita.



6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya

mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya

hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-

hal ini.



7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa

bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka

bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang

jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia

memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras

kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang

salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan

memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.



8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku-

buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya,

hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia

juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah

orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa

mencintai dan menela-dani mereka.



Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah,

Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar

tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang

banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat

kemampuan anak.



9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya

sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan

jiwa.



10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-

syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan

kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.



11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan

segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia-

kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan

disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang

dilakukannya tidak baik.



12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi

di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan

kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci

dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi,

sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh

lagi dengan kemarahan.



13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi

dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali

pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan

perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak

bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan

dari ayah.



14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan

rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari

jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan

dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan

dan melemahnya kondisi badan.



15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk

karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam

kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena

terlalu lama tidur dan kurang gerak.



16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi,

sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan

bahwa itu tidak baik.



17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu

pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah

(atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa

menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.



18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak

(berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.



19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya,

pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia

ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.



20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu

mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan

rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan,

melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.



21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari

keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan

menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap

tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu

adalah perbuatan mulia dan terhormat.



22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat

umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama

muslim dan banyak menguap.



23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan

menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan

memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak.

Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah

Shallallaahu alaihi wa sallam.



24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau

dzikir kepada Allah.



25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau

dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.



26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti

melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-

orang yang suka melakukan hal itu.



27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam

kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan

mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.



28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk

melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar,

membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.



29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus

diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan

bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan

berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-

perintah.



30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru,

pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua.

Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa

mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).



31. Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa

tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah

ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di

antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi

pendidikan anak perempuan.



Wallahu a'lam.



Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''"

asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah .

Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi

Cara Mendidik Anak dengan Menghukum/Memukul




----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Cara mendidik anak

Ingin cerita pengalaman saya dengan anak saya Razi. Saya bukan ahli pendidikan, jadi caranya saya meraba-raba saja.

Karena buat anak2 seperti anak kita susah dijelaskan "salah" atau "benar", waktu anak saya Razi dulu waktu masih kecil saya menerapkan "boleh" dan "tidak boleh"

lebih dulu, meski dia tidak ngerti. Saya membatasi ( seperti pernah juga dulu saya cerita ) hal yang "tidak boleh" dilakukannya sesedikit mungkin : yang membahayakan dirinya atau yang membahayakan orang lain ditambah bila hal yang dilakukannya tidak sopan. Diluar itu semua "boleh" ( kawatir kalau banyak yang tidak boleh malah membuat dia tidak berkembang samasekali). Untuk anak saya, saya pikir berhasil, karena sekarang ( 13 tahun ) dia patuh dan juga sayang kepada kami orang tuanya.

Yang jelas harus ada kesatuan pendapat antara Bapaknya dan Ibunya. jangan sampe yang "boleh" sama ibunya tapi "tidak boleh " sama bapaknya. Akibatnya si Bapak meghukum, si ibu membela, maka si anak akan bingung.

Untuk yang "tidak boleh" disamping dengan mulut dan ekspresi marah, saya juga menggunakan tangan ( cara ini mungkin banyak ibu atau bapak anggota milis yang tidak setuju, apa boleh buat ). Kalau hal itu dilakukannya maka sambil melarang saya memukul pantatnya atau kalau tidak mempan saya akan mecubit pantatnya sampai dia nangis, lalu saya biarkan nangis sampai berhenti. Saya larang siapa saja membujuk, atau berlaku manis dalam kurun waktu itu, termasuk ibunya. kalau diulang lagi saya akan kembali memukul atau mencubit pantatnya juga sampai dia nangis.

Sesudah dia merasa tidak ada yang membelanya dan berhenti menangis baru saya perlakukan kembali sebagaimana biasa, merangkulnya atau bicara dengan dia, untuk menunjukkan bahwa saya sebenarnya sangat sayang sama dia.

Ada beberapa hal yang "tidak boleh" itu dilakukannya di tempat publik misalnya di pertemuan keluarga, di supermarket atau bahkan disekolahnya. Saya tetap

menghukumnya ( meski isteri saya marah-2 pada saya, karena malu ) dengan cara itu ditempat kejadian. Misalnya di supermarket dia mengayun-2 kan kayu panjang tanpa peduli dengan orang yang rame disekelilingnya.

Sesudah agak gedean ( umur 6 - 8 tahun ) dia main perosotan di pegangan tangga antar lantai atau lari2 naik turun eskalator yang lagi jalan. Saya uber dan saya pukul

ditempat itu juga. Mungkin pengunjung melihat saya seperti ayah yang kejam yang senang mukul anak. Apa boleh buat, masalahnya kalau saya tunggu sampe ke rumah baru marah, karena rentang ingatannya yang pendek, kalo dirumah mungkin dia bingung saya marahin dia soal apa ( dia sudah lupa kelakuannya di keramaian diatas ), jadi bisa jadi kemarahan saya tidak efektip.

Atau di rumah, meniru yang dilakukan tukang memperbaiki genteng rumah saya, pernah dua kali anak saya naik ke atas genteng ( waktu saya ada dirumah ) dan jalan mondar mandir di puncak atap dengan santai sampe tukang becak dan tetangga yang ada disekitar rumah teriak2 menyuruh turun ( ini juga dulu pernah saya ceritakan ). saya bujukin dia supaya turun, saya janjikan Mc Donald, pizza atau apa saja yang dia suka. Begitu dia menginjak lantai saya "hajar" pantatnya sampai dia nangis dengan ekspresi marah.

Baru sesudah reda tangisnya dan juga kemarahan saya ( lebih tepat ketakutan saya ), saya bawa dia membeli yang saya janjikan itu, cukup jauh tempatnya lebih kurang sejam naik mobil ke BSD atau Bintaro dari rumah saya di Pamulang. Padahal makannya cuma butuh waktu lima menit, belum keluar dari lapangan parkir, yang dimakannya udah habis.

Yang tidak sopan, pernah satu kali di mesjid dia menunjuk-2 ke arah mulut seorang Bapak2 yang sudah agak tua. Si Bapak mulutnya sumbing. Saya coba jelaskan, bahwa mulut Bapak itu luka, belum sembuh. Dia seperti terpesona terus memelototi si bapak. Akhirnya saya angkat tangan saya, sambil ngomong : kalau terus begitu Razi nanti saya pukul. Baru dia berhenti ngeliat si bapak. Jadi saya urung memukulnya.

Syukurlah, paling banyak dua atau tiga kali saya perlu menghukum untuk kelakuan yang sama. Sisanya bila ada yang "tidak boleh" dilakukannya, paling paling saya cuma perlu ngomong atau dengan gerak mengancam mengangkat tangan saya siap memukul dia langsung surut. Dan lebih syukur lagi beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi saya harus menggunakan tangan seperti dulu itu, dia sudah ngerti

kalau dibilang tidak boleh dan sekarang sudah mengerti sedikit demi sedikit "salah" dan "benar". Dia bisa membedakan kalau saya lagi bercanda, atau lagi marah.

Kalau saya tendang pantatnya secara main2, dia pasti nguber saya buat ngebalas. Tapi kalo dia liat saya marah, dia sudah buru2 minta maaf, biarpun saya tidak nyenggol

dia sekalipun.

Biar bagaimana Bu, ini cara yang pernah saya terapkan buat anak saya. belum tentu berhasil buat yang lain. Kalau terpaksa, mungkin Ibu bisa pake cara ini, kalo ada cara lain yang kurang "vulgar", ya lebih baik pake cara itu.

Wassalam,

Ro (ayah Razi )



----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Cara mendidik anak

Nimbrung juga, menurut pengalaman saya selama ini, seorang Bapak, walaupun hanya mencubit secara pelan keanak itu akan mengakibatkan trauma yang besar buat anak itu. Contoh ga sengaja Papanya Andro pernah mencubit kecil kakaknya Andro yang paling besar, karena kenakalannya, sehingga waktu dia nakal lagi, dan Papanya mau cubit, dia sudah lari ketakutan, apalagi denger suara besar dengan nada tinggi.

Tapi kalau kita/Ibu, walaupun dengan udah suara dengan nada Tenor tetep aja ga digubris. Sejak itu saya tidak pernah memperbolehkan Papanya memarahi karena tugas marah itu tugas saya, dan itu memang ada dalam nasehat Rasul.

Dan ini juga saya terapkan dari pengalaman orang tua saya, saya sangat takut sekali kalau Bapak saya sudah bersuara dengan suara keras, tugas marah adalah mama. Bapak saya ga pernah marahiin anaknya, tapi kami semua hormat dan sayang sama beliau serta bangga, kami tidak pernah merasakan pukulannya sedikitpun, pada hal anaknya termasuk saya adalah anak yang bandel banget. Bila menegurpun dengan bijaksana, ada pengalaman saya, saya selalu setel tape/radio or TV dengan suara

keras, Bapak hanya menegur " Er... tetangga sebelah TV mereka lebih besar loh, tapi suaranya ga kedengeran tuch sampai luar" akhirnya saya hanya malu sendiri dan mengecilkan suara TV.

Dengan Andro juga saya begitu, misalnya dia saya tidak perbolehkan makan atau main yang membahayakan, tapi tetep ngotot, maka baru saya bilang "Boleh kok Andro makan ini, tapi nanti Badan Andro sakit" biasanya dia ga ngotot lagi.

Sekarang anak-anak tahu kalau saya sudah panggil mereka dengan nama

lengkap, tandanya saya sudah marah ! baru dech ada sahutan dari mereka.

Sekedar sharing aja.



----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Saya juga mau ikutan sharing....sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang saya ceritakan keluar dari jalur "Anak2 Spesial" tapi ini masih berhubungan dengan anak2 tersayang..

Masa kecil saya penuh warna dari mulai kebahagiaan karena saya anak tunggal sampai kesedihan..karena orangtua yang masih muda ...blm mempunyai sikap kedewasaan (Ortuku menikah usia 17thn & usia 18thn sdh dikarunia anak).

Papaku sangat temperamen.sekali sekecil apapun kesalahan yang saya buat pasti saya kena tamper dimuka / rambut dijambak dll, tidak peduli itu ditempat siapa / dimana, yang jelas..saya harus siap setiap hari kena tamparan atau jambakan di rambut (Rambut saya panjang) & pasti anak dibawah umur 12thn akan selalu ada tingkah & lakunya yang membuat ortu marah / kesal. & Jadilah..saya kenyang menerima itu semua..

Mama saya..bukan tidak peduli tapi tidak bisa berbuat apa2 malah semua tambah parah & kacau .. karena setiap hari selalu ada ketidakcocokan antara Mama & Papa, hampir setiap hari selalu ada piring terbang, kaca pecah atau apapun rusak karena pertengkaran ortuku..

Dari semenjak saat itu saya bertekad bahwa saya harus bisa hidup & berhasil ..Alhamdulillah walaupun tertatih-tatih & Airmata saya bisa menyelesaikan sekolah dengan bantuan beberapa Tente & Om yang bersimpatik atas keadaan saya.

Sampai saat ini…saya akan menangis kalau mengingat semua itu..

Saat sekarang, jika Daffa anak saya bertingkah hal yang membuat saya marah., emosi saya sering tidak terkendali karena kadang saya merasa kalau anak harus dipukul seperti papa saya dulu untuk membuat saya jera..tapi kembali saya tersentak apa yang didapat oleh anak tsb apakah jera??? atau trauma???

Dan akibat yang terparah.saya tidak pernah merasa rindu yang amat sangat..pada mereka karena saya tidak pernah merasa dekat..

Tapi apapun yang terjadi itu jalan hidup..& saya harus menjalaninya Dan apapun masa lalu saya...mereka tetap ORTU saya yang jauh dilubuk hati saya, saya tetap sayangi...

Saya berpesan mengingat masa lalu saya yang penuh dengan hukuman.. .ingatlah bahwa hukuman tidak akan menyelesaikan masalah... yang ada hanya akan menambah masalah di kemudian hari...

Ini hanya sharing..& mudah2an ada manfaatnya...

Salam,

Ri

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Wah, untung sunah rasul bilang bahwa tugas memarahi ada di ibu...dalam

kasusku adanya itu di rumah smile

Buat ibu Ri di balikpapan, saya saran untuk cari 'tempat muntah' (ember) menumpahkan isi hati dan gundah gulana. Boleh psikolog, psikiater, ulama, temen, sahabat, kerabat. Tapi pastikan orang tersebut bisa dijamin ga' cerita-cerita kemana-mana masalah kita. Soalnya kalau saya sendiri sudah sampai di ubun-ubun permasalahannya tapi bisa cerita ke orang lain, rasanya lebih enak...

Just a thought. Semoga berkenan.

salam,

Ita

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Cara Mendidik Anak (memukul anak)

Saya setuju dengan cara pak Ro memberitahu (memperingatkan) si anak saat dia melakukan kesalahan (dimana saja, langsung on the spot). Tapiii.... caranya "main pukul" sepertinya kurang tepat.

Anak ASD punya kelemahan dalam membaca ekspresi wajah, sehingga memang kalau marah sambil melotot saja, bisa jadi anak gak bakalan ngerti.

Sebagai gantinya kita bisa "pegang erat" lengan anak dan gunakan suara keras dan tegas misalnya. Jangan lupa anak ASD punya kelebihan dalam "daya ingat" dan "meniru". saya khawatir malah secara tidak sadar anak juga akan jadi terbiasa dengan cara orang tua memperlakukan dia (secara kasar).

Cara tiap orang tua memang bisa berbeda-beda dalam mendidik anak, tapi sebisa mungkin kita tidak pake cara kasar..... daripada akhirnya kita menyesal di kemudian hari.

Cerita bu Ri di atas yang sampai menimbulkan trauma, mudah-mudahan bisa jadi "pelajaran" bagi kita. Syukur juga ibu Ri selalu ingat bahwa apa yang dilakukan papa dulu pada ibu tidak ikut diterapkan pada Daffa. Terima kasih bu, sudah mau sharing pengalaman pribadi.

Salam,

LM

----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Bu LM & Bu DP,

Trimakasih.....

Alhamdulillah...saya punya teman yang banyak....& sekarang ada PK....

Sekali lagi....Trimakasih.....saya sudah bisa menceritakan semuanya....



----- Original Message -----

From: Muh. C

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Bu Ri, Bu LM n Bu DP,

Sori ikut nimbrung yach dan juga sudah hampir 2 bulan nggak ikut nimbrung.

Karena topiknya menarik, saya juga mau sharing ...

Aldi 6 thn yang pasti TAKUTNYA hanya sama mamanya, krn memang yang suka menghukum (saya pakai bahasa menghukum sebagai bhs halus utk memukul) adalah MAMAnya, karena saya TIDAK PERNAH sekalipun menghukum dia (kecuali reflex).

Tapi para Ibu , saya juga bingung, karena kalau dia sedang melakukan aktivitas planetnya seperti lari2....atau ngremeng sendiri....dia hanya berhenti kalau mamanya yg kasih kode...kalau saya yg kasih kode...no reken bu. Tapi emang pola yg muncul..SETIAP kali mamanya menghukum ...pasti Aldi larinya ke saya...atau meminjam istilah mamanya..mohon perlindungan ke saya.

Dan memang juga ...3 bulan terakhir ini ..trendnya ...Aldi ... semakin manja dengan saya ...jadi kalau saya pas ada di sby....PASTI ulah dan polahnya seperti anak normal yg manja sama papanya.

So, what should i do ..........melarang mamanya menghukum...saya juga BT sendiri ...karena emang nggak bisa diam anaknya ...menghukum...saya sedih sendiri....akhirnya kaya pribahasa...dimakan ibu mati ....nggak dimakan bapak mati....

pusing...pusing....

----- Original Message -----

From: IT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Anak saya, Filan (3,5 th) juga hanya nurut sama saya. Sama papanya nurut kadang-kadang. Sama kakek dan neneknya manja banget. Selama ini saya pake jurus Bu Ita untuk menegur dengan INTONASI SUARA yang tegas. Kadang kalau jengkel banget, saya cubit kecil pantatnya (yang ini jarang). paling saya cuma bilang "Filan mau dicubit kecil?" Biasanya ia spontan bilang "nggak..."

Misalnya: dia suka sekali main air (ngepel, cuci-cuci mainan, dll). Kalau udara lagi cerah sih gak papa. Tapi kalau lagi dingin n musim hujan kayak sekarang, kan bisa masuk angin. Saya akan bilang "Filan, tidak main air. Sekarang dingin, nanti bisa masuk angin" dengan gaya tegas sambil langsung angkat dia keluar dari kamar mandi. Biasanya sih, dia nurut sambil bilang "Iya..." walau besoknya main air lagi smile

Tapi kalau yang mengatakan itu papa atau kakek/nenek, ia cuek aja.

Kalau akhirnya diangkat, ia pasti nangis and marah.

In

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Menghukum anak....TRAUMA s.d TUA

Sebagai psikolog, cuma mau ngingetin bahwa punishment fisik bisa berbuntut panjang di psikis anak:

1. ekspresi sayang bila dilakukan melalui pemukulan adalah hal yang

WAJAR, bisa-bisa tuanya dia mukulin bini dan anak-anaknya juga dengan

alasan untuk disiplin dsb... kena UU kekerasan dalam rumah tangga,

pak...penjara, euy. Dia, pak yang dipenjara. Kasihan atuh.

2. kita sebagai si 'pemukul' bisa berubah terus tensi-nya...hari ini

mukuldengan intensitas 'medium' mungkin besok karena kita lagi capek,

intensitass menjadi 'large' dan seterusnya...lama-lama bisa-bisa pake

golok...

3. anak, bisa-bisa memendam rasa 'dendam'. jadi ntar begitu dia udah

setinggi monas, dia bisa bales pukul bapak. wadow....by that time bapak

pasti udah ga' sekuat sekarang. percaya deh ama saya, makin gede anak,

kitanya makin keok.

Karena itu saya lebih mementingkan menegakkan "wibawa" dengan

menerapkan "I MEAN WHAT I SAY --- I SAY WHAT I MEAN" kepada anakku

semata wayang. Saya main 'ekspresi wajah', dan 'suara' (yang kata guru-guru mandiga, bisa bikin pabrik TOA bangkrut). Saya setuju bahwa 'konsekuensi' harus diberikan pada saat perilaku dilakukan anak, tapi orang akan lebih setuju bila kita mengekspresikan amarah melalui suara tegas, larangan, dan wajah merengut daripada kita memukul. Jadi selama ini sih...di tempat umum aku cukup berteriak "IKHSAN PRIATAMA" dan tidak terjadi apa-apa kecuali bahwa perilaku dia berhenti (paling resikonya, orang jadi tahu nama lengkap anak, 'kan?).

Masih berulah biarpun udah ditegur? Ya pulang. Susah amat.

Nah, di rumah, bebas aku memarahinya dan melarang segala bentuk kegembiraan.

Puas, deh.

Sekali lagi, itu berarti 'konsisten'. Jadi dia respek sekali kepadaku, sementara itu hubungan kedekatan emosional kami tidak perlu diragukan lagi. Jangan dikira masalah selesai. Oh tidak. Sekarang-sekarang ini lagi pusing-pusingnya soalnya anak 15 tahun kan emang nyebelin (ABG gitu lhooo).

But, love him forever lah.

Something to think about.

salam,

Ita

Sunday, June 7, 2009

Membangun Generasi Gemar Membaca



Tak terasa pada tanggal 17 mei 2009 adalah hari buku nasional. meskipun selebrasi peringatan ini tidak terasa istimewa bagi setiap orang tetapi ini harusnya dapat terasa istimewa di mata pecinta buku. Walaupun tidak perlu diperingati sekalipun, orang tak akan berhenti membaca buku. Inilah istimewa nya hari buku bagi setiap pencinta buku, terlepas dari ada tidaknya peringatan ini.


Pernahkah kita mendengar ada suatu pepatah mengatakan bahwa membaca membuka jendela dunia, memang terlalu sedikit berlebihan tetapi itulah kenyataan yang akan kita didapatkan . Ilmu yang di dapat dari membaca buku tidak pernah habis-habisnya sampai akhir hayatnya. Dengan membaca kita dapat mengetahui perkembangan apa saja yang ada di dunia dan termodern apapun juga dapat meramalkan masa depan.


Membaca berasal dari kata dasar baca yang artinya memahami arti tulisan. Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Tanpa bisa membaca, manusia dapat dikatakan tidak bisa hidup di zaman sekarang ini. Sebab hidup manusia sangat bergantung pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu, salah satunya dengan cara membaca.


Ide adanya Hari Buku Nasional datang dari masyarakat perbukuan guna memacu minat baca masyarakat Indonesia , sekaligus menaikkan penjualan buku. Masyarakat gemar membaca agak sulit dilakukan, walapun pemerintah sudah menyediakan beberapa fasilitas, yakni perpustakaan. Dan ada pula perpustakaan keliling dengan menggunakan mobil yang sering beroperasi di daerah pedalaman atau jauh dari perkotaan.


Bagi Pencinta buku, buku merupakan investasi besar dalam hidupnya. Dan yang akan menjadi masalah saat ini yakni naiknya harga BBM yang kemungkinan membengkaknya biaya operasional buku dari beberapa penerbit dan apabila terjadi kenaikan mungkin sedikit berpengaruh turunnya daya beli masyarakat.


Di zaman sekarang ini, nampaknya sebagian besar pelajar kurang memiliki minat membaca, terutama membaca buku pelajaran. Ini diakibatkan oleh karena sebagian pelajar tidak memiliki metode dalam membaca, sehingga pada saat membaca timbul rasa malas, bosan, dan mengatuk.
Dalam mewujudkan bangsa yang berbudaya gerakan gemar membaca buku haruslah ditanamkan sejak dini, walaupun membaca tidak memandang usia tetapi dengan membaca wawasan kita dapat lebih berkembang. Kesadaran seseorang dalam gemar membaca biasanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan pergaulaannya tetapi tidak jarang tumbuh dari dalam diri sendiri yang didasarkan atas keinginan untuk berubah lebih baik.


Dalam menghadapi persaingan global, seseorang dituntut untuk menentukan kesuksesannya sendiri, dimana semakin banyaknya pengangguran yang disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan dan upaya pemerintah untuk meningkatkan standarisasi SDM Indonesia dengan mengadakan UASBN untuk meningkatkan mutu pendidikan.Menumbuhkan gerakan gemar membaca haruslah ditingkatkan dimana sangat jarang dilihat seseorang membawa buku dan membaca baik saat dalam keadaan menunggu bis di halte maupun dalam waktu senggang.


Apabila kita melihat negara yang sangat maju sekarang ini, yakni jepang. mungkin pola menimba ilmunya sudah sangat jauh berbeda dari negara Indonesia . biasanya para pelajar sudah merasa kurang dalam membaca mungkin mereka menganggap berapa pentingnya ilmu yang terdapat pada buku. Keberhasilan jepang pada zaman dahulu setelah terjadi bom atom juga didasarkan dengan keinginan yang besar untuk melakukan perubahan, yakni mengirimkan pemudanya di negara luar untuk menuntut ilmu dan mengabdi kembali setelah berhasil juga mengganti buku-buku yang berbahasa asing dengan bahasa jepang agar lebih mudah dipahami.


Keberhasilan tersebut sepatutnya dicontoh dan diterapkan juga ditingkatkan di Indonesia, melalui program pendidikan yang lebih maju dan sistimatis, sedikit demi sedikit Indonesia akan mulai menapaki iklim pendidikan yang lebih maju kedepannya.Dan hasil dari membaca buku, sebaiknya dapat dituangkan dengan memberikan gagasan, ide-ide, pendapat dalam membangun bangsa ini.


Kesimpulannya, sebuah metode yang perlu diterapkan untuk menumbuhkan yakni mengenalkan buku kepada anak sejak dini, gambar yang menarik lebih mudah dipahami anak kecil daripada teks yang biasa saja. Para remaja sebaiknya satu harinya minimal dapat membaca satu buah buku dan juga dapat mengoptimalkan perpustakaan sebagai bahan bacaan.


Mari menyambut suatu perubahan dengan melaksanakan sistem gemar membaca di mulai dari diri sendiri hingga dengan mengajak orang terdekat untuk membaca buku mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk diri sendiri juga orang banyak dan jadikan membaca merupakan hal yang menyenangkan. Selamat mencoba.